Logo Bloomberg Technoz

Serangan terhadap Iran menyalakan alarm risk-off di pasar keuangan emerging markets. Di pasar domestik gempuran ini cukup terasa dengan terjadinya arus keluar modal asing di pasar saham kemarin sebesar US$37,4 juta, sementara di pasar surat utang menggunakan data akhir Februari angkanya US$19,1 juta. Jika menggunakan kurs JISDOR Bank Indonesia Rp16.848/US$ nilai yang keluar dari pasar saham setara dengan Rp630,12 miliar, sementara dari pasar surat utang Rp321,8 miliar. 

Selain itu, perang terbuka di Timur Tengah itu juga berisiko menimbulkan guncangan baru bagi ekonomi global yang sudah rapuh. Salah satu dampaknya adalah ongkos energi bisa jadi lebih mahal, lantaran terputusnya distribusi dan berhentinya produksi minyak. Iran merupakan negara yang berada di wilayah produsen minyak serta satu-satunya jalur logistik minyak yang lebih efisien. 

Tekanan eksternal ini jadi tantangan, terutama saat volatilitas global semakin meningkat lantaran konflik terbuka yang berisiko mengganggu distribusi energi dunia. 

Risiko Harga Minyak

Perang terbuka di Timur Tengah dapat memicu guncangan baru terhadap ekonomi global yang sudah rapuh. Risiko utama datang dari lonjakan harga energi akibat gangguan produksi dan distribusi minyak. Sebab, Iran berada di kawasan produsen energi global. 

Jika harga minyak menjulang tinggi seperti prediksi ekonom hingga US$108 per barel, maka konsekuensinya terhadap ekonomi Asia cukup terasa. Sebagai kawasan pengimpor minyak, Asia sangat bergantung stabilitas politik yang terjadi di negara-negara produsen minyak. Saat ini konfrontasi militer antara negara-negara Teluk mulai memanas setelah Iran melakukan balasan dengan menargetkan dan menyerang setiap negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).  

Pergerakan minyak WTI. (Sumber: Bloomberg)

Sentimen Domestik

Sementara dari domestik, data-data ekonomi belum sepenuhnya mendukung laju penguatan rupiah. Inflasi tercatat melambung 4,76% yoy pada Februari di atas perkiraan para ekonom yaitu 4,3% yoy. Sedangkan capaian ekspor justru lebih rendah dari ramalan sebesar 11,04% yoy dan hanya terealisasi 3,39% yoy.  

Kombinasi inflasi yang tinggi dan ekspor yang belum sesuai ekspektasi membentuk sentimen domestik yang cenderung defensif, di tengah respons Bank Indonesia yang melakukan operasi pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar. 

Meski begitu, hari ini pemerintah tetap akan melakukan lelang surat utang negara (SUN) dengan target indikatif Rp33 triliun untuk membiayai program-program domestik.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Analisis Teknikal Rupiah Selasa 3 Maret 2026 (Sumber: Bloomberg)

Di tengah berbagai sentimen eksternal dan domestik yang berkelindan, rupiah agaknya masih akan sulit melawan meski beberapa mata uang Asia sudah menunjukkan perlawanan arah. 

Secara teknikal, rupiah berpotensi lanjut melemah. Target pelemahan terdekat adalah Rp16.880/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.900/US$.

Apabila kembali break kedua support tersebut, maka rupiah berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp16.950/US$ sebagai support terkuatnya.

Namun jika rupiah menguat hari ini, maka resistance menarik dicermati ada di level Rp16.820-16.800/US$. Target paling optimistis adalah hingga Rp16.750/US$.

Dengan volatilitas global yang masih tinggi itu, serta sentimen domestik yang belum cukup solid, pergerakan rupiah kemungkinan tetap berada dalam tekanan, meski peluang rebound teknikal masih tetap ada. 

(riset/aji)

No more pages