“Rapat dulu, baru saya sampaikan hasilnya,” ujarnya. “Ya perlahan-lahan sebagian sudah ada perubahan harga [minyak] naik.”
Stok BBM
Pada kesempatan tersebut, Bahlil memastikan ketahanan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini masih dalam posisi aman.
“Masih cukup 20 hari,” ujarnya.
Dia juga menyebut sampai hari ini belum terdapat dampak signifikan terhadap beban subsidi energi akibat kenaikan harga minyak dunia menyusul krisis Iran.
“Sampai hari ini tidak ada masalah, tetapi kan harga dunia akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah,” kata Bahlil.
“Besok saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional, setelah itu baru saya sampaikan apa hasil dan analisis dari Dewan Energi Nasional.”
Sebelumnya, sejumlah analis memproyeksikan harga minyak dunia rawan mencapai lebih dari US$110/barel imbas serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran dan terganggunya salah satu urat nadi terpenting perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz.
Analis yang juga Chief Executive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo Praska Putrantyo bahkan menilai jika eskalasi terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mendekati titik tertinggi pada semester-I 2022 atau saat terjadi konflik di Ukraina dan Rusia kala itu.
Hal ini diakibatkan karena terganggunya mayoritas pasokan minyak mentah.
“Jika terus berlanjut atau konflik meluas hingga penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, tidak menutup kemungkinan minyak mentah WTI bisa tembus di atas US$100/barel atau US$110/barel,” kata dia, Senin (2/3/2026).
Untuk jangka pendek, penutupan Selat Hormuz dalam membuat harga minyak WTI berpotensi menyentuh ke level resistance terdekatnya di US$74/barel—US$77/barel. Dalam skenario moderat, harga minyak mentah di kisaran US$75/barel—US$80/barel.
Senada, analis komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan WTI akan dengan mudah melewati level US$70/barel dalam jangka pendek. Namun, apabila eskalasi berlangsung lama WTI dapat tembus di level US$100/barel.
Jika harga minyak WTI naik, lanjutnya, Brent sudah hampir pasti akan mengikuti.
"Brent selama ini harganya sekitar 5%—10% di atas WTI, jadi sekitar US$105—US$110 per barel," ucapnya. “Persoalannya adalah logistik, bukan hanya produksi, 20% minyak mentah melewati Hormuz."
Pada Senin (2/3/2026), harga WTI melonjak hingga 8,07% ke level sekitar US$72,43/barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Mei melonjak 12% menjadi US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi di Singapura.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS akan terus membombardir Iran hingga tujuannya tercapai, sambil mengakui bahwa “kemungkinan akan ada lebih banyak” korban jiwa di pihak Amerika.
Dalam sebuah video yang diunggah di media sosial pada hari Minggu, Trump mengonfirmasi kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan mengatakan AS dan Israel telah menyerang ratusan target di Iran, termasuk fasilitas Garda Revolusi dan pertahanan udara.
Trump menyerukan militer dan polisi Iran untuk menyerah “untuk kekebalan penuh atau menghadapi kematian yang pasti.”
“Kita tidak dapat membiarkan sebuah negara yang membentuk pasukan teroris memiliki senjata seperti itu yang memungkinkan mereka untuk memaksa dunia menuruti keinginan jahat mereka,” katanya tentang ambisi nuklir Iran.
“Operasi tempur terus berlanjut saat ini dengan kekuatan penuh dan akan terus berlanjut hingga semua tujuan kita tercapai.”
(wdh)




























