Logo Bloomberg Technoz

Tekanan terhadap nilai tukar kerap membuat terjadinya arus modal keluar dari pasar domestik. Rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini tercatat menyusut 0,34% di Rp16.828/US$. Kemudian pada pukul 09:53 WIB melemah 0,38% menjadi Rp16.834/US$. 

Ke depan, arah SUN akan sangat ditentukan oleh dua faktor utama: seberapa jauh eskalasi konflik AS–Iran berdampak pada harga minyak global, serta bagaimana respons bank sentral global, khususnya The Fed.

Jika konflik meluas dan mendorong minyak menembus level psikologis baru yang diprediksi ekonom mencapai US$108 per barel, volatilitas di pasar obligasi domestik diperkirakan akan terus berlanjut. 

Intervensi Bank Indonesia

Volatilitas yang terjadi di pasar keuangan RI tak lepas dari pengamatan Bank Indonesia (BI). Tergerusnya rupiah dan menjadi mata uang terlemah ketiga di Asia hari ini praktis membuat BI mengambil langkah intervensi di pasar spot serta transaksi non-deliverable forward (NDF) baik di pasar internasional maupun domestik. 

"BI akan terus mencermati pergerakan pasar secara ketat dan merespons secara tepat untuk memastikan pergerakan rupiah tetap sejalan dengan fundamentalnya," ujar Erwin Hutapea, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI dalam pernyataannya. 

Langkah intervensi ini bisa jadi sinyal kuat bahwa bank sentral tidak ingin volatilitas jangka pendek berkembang menjadi tekanan sistemik. Kehadiran BI di pasar spot dan NDF bertujuan menjaga likuiditas valas serta menahan pergerakan rupiah agar tidak bergerak terlalu liar di luar nilai fundamentalnya.

Sebagai catatan, melansir Bloomberg Intelligence, nilai wajar rupiah berada di kisaran Rp15.446/US$. Nilai ini dihasilkan menggunakan model Behavioral Equilibrium Exchange Rate (BEER) yang mengukur nilai keseimbangan (nilai wajar) jangka menengah hingga panjang suatu mata uang dengan menganalisis variabel-variabel makroekonomi secara statistik. 

(dsp/aji)

No more pages