Logo Bloomberg Technoz

Impor juga diperkirakan terkontraksi secara bulanan, tetapi menunjukkan pertumbuhan tahunan yang menandakan perbaikan permintaan domestik. Impor Indonesia diproyeksikan terkontraksi 15,53% mom, sejalan dengan pola musiman. Namun, secara tahunan, pertumbuhan impor diperkirakan meningkat menjadi 12,24% yoy, melampaui pertumbuhan ekspor.

“Hal ini sejalan dengan agenda kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan, yang telah diterapkan sejak semester II-2025, dan memperkuat permintaan domestik,” ujarnya.

Realisasi APBN Januari 2026 menunjukkan bahwa penerimaan bea masuk menurun 4,4% yoy, dipengaruhi oleh meningkatnya impor dengan tarif Most Favored Nation (MFN) 0%, pemanfaatan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) yang lebih besar, serta restitusi pajak.

Dia memperkirakan defisit transaksi berjalan 2026 tetap di bawah 1% dari produk domestik bruto (PDB) meskipun masih terdapat risiko yang berasal dari ketidakpastian tarif perdagangan.

“Kami mempertahankan proyeksi bahwa surplus perdagangan akan tetap berlanjut, meskipun diperkirakan akan menyempit secara bertahap karena pertumbuhan impor kemungkinan akan melampaui ekspor,” ujarnya.

Hal ini sejalan dengan sikap kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan yang dapat mendorong permintaan impor yang lebih tinggi. Sementara itu, kinerja ekspor diperkirakan akan kembali normal setelah percepatan pengiriman ke Amerika Serikat pada tahun lalu, perlambatan ekonomi China, serta moderasi harga komoditas.

Ketegangan geopolitik yang tinggi di berbagai kawasan menimbulkan risiko penurunan dengan berpotensi menekan aktivitas dan volume perdagangan global. Ketegangan tersebut juga dapat memberikan tekanan pada harga bahan bakar dan energi, sehingga meningkatkan impor.

Di sisi lain, Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (Agreement on Reciprocal Trade/ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat dinilai dapat memberikan dukungan terhadap kinerja ekspor. Namun, hal ini dapat terjadi apabila Indonesia mampu memanfaatkan secara efektif akses tarif 0% yang diberikan kepada 1.819 produk Indonesia di tengah penerapan tarif nol persen atas sebagian besar impor Amerika Serikat.

“Seiring dengan diperkirakannya penyempitan surplus perdagangan, kami memproyeksikan defisit transaksi berjalan [CAD] melebar secara moderat menjadi 0,59% dari PDB pada 2026 dibandingkan defisit 0,10% dari PDB pada 2025,” ujarnya.

Tingkat ini masih tergolong terkendali dan mencerminkan posisi eksternal yang stabil, sehingga memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mengadopsi bias pelonggaran kebijakan dalam jangka menengah hingga panjang.

Secara keseluruhan, cadangan devisa diproyeksikan meningkat secara moderat menjadi sekitar US$157–159 miliar pada akhir 2026 dibandingkan US$156,5 miliar pada 2025. Sementara nilai tukar rupiah diperkirakan menutup tahun di kisaran Rp16.675–Rp16.775 per dolar AS. Ini menguat dibandingkan Rp16.690 per dolar AS pada akhir 2025.

(lav)

No more pages