“Ekspor bangkit tajam sementara impor juga meningkat, menandakan penguatan investasi domestik dan permintaan industri,” tulis Samuel Sekuritas.
Tekanan inflasi mulai meningkat pada awal tahun. Inflasi tahunan Januari 2026 tercatat 3.55 persen, sedikit di atas batas atas target Bank Indonesia. Namun kenaikan ini dinilai lebih dipicu faktor administrasi harga dan nilai tukar dibanding permintaan berlebih.
“Inflasi diperkirakan tetap tinggi pada 1Q26 sebelum mereda setelah Idul Fitri, mendukung sikap BI untuk menahan suku bunga,” tulis laporan itu.
Di sisi struktural, inklusi keuangan terus menunjukkan kemajuan. Jumlah investor pasar modal telah menembus 21 juta, sementara digitalisasi administrasi pajak memperluas basis kepatuhan fiskal.
“Pertumbuhan tersebut menegaskan pendalaman inklusi keuangan meskipun terjadi volatilitas pasar saham belakangan ini,” tulis Samuel Sekuritas.
Meski demikian, risiko tata kelola tetap menjadi perhatian, terutama terkait aktivitas ekonomi ilegal di sektor pertambangan. Laporan tersebut menilai kebocoran ekonomi masih menjadi tantangan material bagi reformasi institusional.
Sebagai penutup, Samuel Sekuritas menilai tahun 2026 akan menjadi periode penyeimbangan kebijakan antara pertumbuhan dan stabilitas.
“Secara keseluruhan, 2026 diperkirakan menjadi tahun penyeimbangan kebijakan antara dukungan pertumbuhan, stabilitas, dan disiplin institusional,” tulisnya.
(red)































