Dari total 79,5 juta peserta JKN yang telah melakukan Skrining Riwayat Kesehatan, sebanyak 34,6 juta peserta terdeteksi berisiko mengidap penyakit kronis.
BPJS Kesehatan pun merinci sejumlah penyakit yang paling banyak teridentifikasi dalam hasil skrining tersebut.Berikut deretan penyakitnya:
-
23 juta peserta berisiko mengidap hipertensi, stroke, dan penyakit jantung
-
17 juta peserta berisiko menderita diabetes melitus
-
Sebanyak 14,4 juta berisiko menderita kanker serviks
-
Seanyak 3,3 juta berisiko mengidap Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
-
2,4 juta peserta berisiko mengidap TBC
-
2,2 juta peserta yang berisiko menderita hepatitis B
-
Sebanyak 1,5 juta berisiko mengidap kanker paru
-
1 juta peserta berisiko mengidap kanker payudara.
Sisanya, tercatat berisiko menderita hepatitis C, talasemia, dan kanker usus.
Sebagai tindak lanjut hasil skrining tersebut, sebagian peserta telah diarahkan untuk menjalani konsultasi dan pemeriksaan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), sementara sebagian lainnya dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Rizzky menyebut, sebanyak 2,9 juta peserta JKN yang membutuhkan penanganan spesialistik telah ditangani di rumah sakit dengan total biaya sekitar Rp4,78 triliun.
“Selain bermanfaat untuk memantau kesehatan peserta JKN, Skrining Riwayat Kesehatan juga besar dampaknya untuk menekan pembiayaan penyakit kronis,” ujarnya.
Program Skrining Riwayat Kesehatan ditujukan bagi peserta JKN berusia 15 tahun ke atas dan dilakukan setahun sekali. Dalam skrining ini, peserta diminta mengisi sejumlah pertanyaan untuk mengetahui risiko penyakit kronis yang mungkin dialami.
Proses skrining dapat dilakukan melalui Aplikasi Mobile JKN, layanan Whatsapp PANDAWA di nomor 08118165165, website resmi BPJS Kesehatan, atau dengan datang langsung ke FKTP terdekat.
(lav)






























