Melansir Bloomberg News, investor di pasar obligasi pemerintah AS senilai US$30 triliun telah menyesuaikan posisi untuk periode penahanan suku bunga yang lebih panjang. Kontrak swap mengindikasikan pemangkasan suku bunga berikutnya baru diperkirakan terjadi pada Juli tahun ini, dengan peluang tambahan menjelang akhir tahun. Sejumlah bank besar Wall Street bahkan menggeser proyeksi pemangkasan suku bunga ke paruh akhir 2026 atau tidak ada sama sekali.
Di sisi lain, pasar juga akan mencermati pernyataan Powell, terkait berapa lama The Fed akan menahan suku bunga, dan faktor apa yang akan menggeser kebijakan kembali ke arah pelonggaran moneter, serta apakah Powell akan mengambil langkah selanjutnya untuk menghadapi tekanan dari Trump.
Dengan tekanan politik yang makin kuat, arah kebijakan The Fed agaknya berada dalam situasi yang tidak biasa. Meski demikian, mayoritas pejabat menilai belum ada urgensi kebijakan untuk mengubah arah suku bunga dalam waktu dekat.
Sementara dari dalam negeri, pasar mencermati arah kebijakan bank sentral Indonesia pasca pengangkatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) baru. Perubahan di jajaran pimpinan BI ini terjadi di tengah fase penting dan genting untuk stabilisasi nilai tukar dan penyesuaian bauran kebijakan moneter-makroprudensial, ketika tekanan eksternal mulai mereda namun ketidakpastian global belum sepenuhnya hilang.
Bagi pasar, penguatan rupiah saat ini bukan semata hasil faktor domestik, melainkan lebih banyak ditopang sentimen global, khususnya pelemahan dolar AS dan meredanya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Artinya, ruang penguatan rupiah masih rentan terhadap perubahan nada kebijakan The Fed, terutama jika Powell menyatakan sikap lebih hawkish atau membuka kembali opsi pengetatan bila inflasi AS kembali naik.
Di level domestik, BI masih menghadapi dilema, antara menjaga stabilitas nilai tukar di satu sisi, sembari tetap mendorong pertumbuhan ekonomi di sisi lain. Dengan inflasi yang relatif terkendali dan defisit transaksi berjalan yang masih dapat dikelola, tekanan terhadap rupiah sejatinya lebih bersifat eksternal. Namun, ketergantungan pada aliran modal portofolio membuat stabilitas rupiah sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global.
Pasar juga akan menguji konsistensi BI dalam menjaga kredibilitas kebijakan. Pengangkatan Deputi Gubernur baru diharapkan tidak mengubah arah kebijakan utama BI, akan tetapi memperkuat koordinasi internal dan komunikasi kebijakan, terutama dalam menyikapi volatilitas pasar keuangan global yang masih tinggi. Dalam konteks ini, sinyal kesinambungan kebijakan jadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor.
(dsp/aji)





























