Ekonomi AS Lesu, Konsumsi Melambat Saat Perang Iran Meletus
News
14 March 2026 07:03

Mark Niquette - Bloomberg News
Bloomberg, Pengeluaran konsumen Amerika Serikat (AS) tercatat hampir tidak mengalami kenaikan pada Januari lalu, menyusul revisi pertumbuhan ekonomi akhir tahun lalu yang ternyata lebih lemah dari perkiraan semula. Data ini memberikan sinyal bahwa ekonomi AS telah kehilangan momentum bahkan sebelum konflik dengan Iran meletus.
Berdasarkan data yang dirilis Jumat (13/3), pengeluaran konsumen yang telah disesuaikan dengan inflasi hanya naik 0,1% dibandingkan Desember. Di sisi lain, indikator inflasi inti yang menjadi acuan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) justru naik tajam sebesar 0,4%. Pemerintah juga memangkas estimasi awal pertumbuhan kuartal keempat hingga separuhnya, akibat dampak penutupan pemerintahan (government shutdown) terlama dalam sejarah, penurunan konsumsi, serta merosotnya angka ekspor.
Kondisi tersebut kini kian mengkhawatirkan. Angka penggajian (payrolls) anjlok pada Februari sementara pengangguran meningkat, memicu kembali kecemasan atas kesehatan pasar tenaga kerja. Selain itu, perang telah mendongkrak harga energi dan memukul sentimen rumah tangga dalam beberapa pekan terakhir, menurut survei terbaru dari University of Michigan.
"Konflik Timur Tengah kemungkinan besar akan meninggalkan dampak nyata pada ekonomi AS melalui harga energi yang lebih tinggi, kondisi keuangan yang mengetat, meningkatnya ketidakpastian sektor swasta, dan kembalinya tekanan pada rantai pasok," tulis ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco dan Lydia Boussour, dalam catatan mereka.


























