Airlangga: Rata-rata Harga Minyak US$115, Defisit APBN Bisa 4,06%
Azura Yumna Ramadani Purnama
14 March 2026 07:30

Bloomberg Technoz, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan simulasi dampak kenaikan harga minyak mentah. Dalam skenario terburuk jika rata-rata harga minyak menembus US$115 per barel maka defisit APBN bakal melebar hingga 4,06% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dalam simulasi yang disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna, Airlangga menggunakan tiga asumsi durasi konflik yang berpengaruh pada kenaikan harga minyak; 5 bulan, 6 bulan, dan 10 bulan.
Pada skenario tersebut, harga minyak dunia diperkirakan bisa melonjak hingga US$107 per barel, bahkan pada skenario terpanjang dapat mencapai US$130 per barel belum turun kembali.
“Kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga US$115 per barel, kurs rupiah kita Rp17.500, growth-nya 5,2%, surat berharganya 7,2%, defisitnya 4,06%,” kata Airlangga dalam sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3/2026).
Mulanya Airlangga mengungkapkan realisasi harga minyak Indonesia (ICP) pada awal tahun masih relatif di bawah asumsi APBN sebesar US$70 per barel. Pada Januari tercatat US$64,41 per barel dan pada Februari US$68,79 per barel.



























