Logo Bloomberg Technoz

Ramalan Rupiah Hari Ini Saat Dolar Makin Mahal

Tim Riset Bloomberg Technoz
12 March 2026 08:13

Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pagi ini, Kamis (12/3/2026), dibuka stagnan Rp16.893/US$. Tak berselang lama, rupiah menyusut menjadi Rp16.903/US$. 

Indeks dolar AS kembali menguat 0,22% ke 99,49 dalam pembukaan perdagangan dan membawa mata uang Asia berbalik arah ke zona merah, setelah kemarin menguat. Baht Thailand tergerus paling dalam, disusul won Korea Selatan, ringgit Malaysia, yen Jepang, dolar Singapura dan yuan offshore China. 

Pergerakan mata uang Asia pada Kamis pagi (12/3/2026). (Bloomberg)

Rupiah kerap terbawa oleh arus ketidakpastian geopolitik. Beberapa pekan terakhir, pergerakan rupiah satu ritme dengan mata uang Asia. Meski begitu, dalam jangka pendek, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak lebih lemah dibandingkan mata uang lainnya di kawasan tersebut. 


Hal ini terjadi lantaran pasar masih mengkhawatirkan kondisi fiskal Indonesia, adanya kemungkinan penurunan peringkat utang, serta kepercayaan investor yang belum sepenuhnya pulih. 

Selain itu, daya tarik investadi di aset rupiah juga sedikit berkurang karena Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga lima kali sepanjang 2025 dengan total pemangkasan sebanyak 125 bps. Ketika selisih suku bunga dengan negara lain mengecil, minat investor asing untuk menempatkan dana di Indonesia juga bisa berkurang.