Logo Bloomberg Technoz

Mata Uang Asia Jadi 'Lautan Merah', Termasuk Rupiah

Tim Riset Bloomberg Technoz
12 March 2026 13:10

Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)
Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Mata uang negara berkembang melemah secara luas dalam perdagangan Kamis siang (12/3/2026) di tengah simpang siurnya arah dan durasi perang di Timur Tengah. Ketidakjelasan itu mendorong para pelaku pasar kembali memasang mode risk-off dan menghindari aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.  

Rupiah siang ini pun ikut arus pelemahan. Pada perdagangan siang ini, nilai tukar rupiah melemah 0,2% ke Rp16.904/US$ bersamaan dengan melemahnya hampir semua mata uang Asia.

Tekanan terhadap mata uang kawasan terjadi bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS sebesar 0,29% ke 99,52, begitu juga harga minyak mentah telah kembali melonjak ke US$100,8 per barel dan berada pada harga tertinggi sejak September 2022. 

Harga minyak Brent kembali naik US$100,75 pada Kamis siang (12/3/2026) pukul 12.02 WIB. (Bloomberg)

Kenaikan harga energi ini kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global serta potensi tekanan terhadap negara-negara importir energi di kawasan Asia. 

Di antara mata uang Asia, peso Filipina mengalami pelemahan paling dalam, disusul baht Thailand, rupee India, ringgit Malaysia, won Korea Selatan, rupiah Indonesia, dolar Taiwan, dolar Singapura, yen Jepang, yuan China offshore, dan dolar Hong Kong. Sebaliknya hanya dolar Hong Kong yang stagnan.

Mata uang Asia melemah, menyusul naiknya harga minyak dunia ke US$100 per barel. (Bloomberg)