Logo Bloomberg Technoz

Meski Lemah, Rupiah Ditutup di Bawah Rp16.900/US$

Redaksi
12 March 2026 15:25

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah hari ini, Kamis (12/3/2026), cukup defensif. Membuka hari dengan posisi melemah 0,1% di Rp16.887/US$, lalu pada perdagangan siang hari melemah 0,2% ke Rp16.904/US$, dan pada penutupan sore ini terdepresiasi 0,14% ke Rp16.893/US$.

Harga minyak Brent kembali naik 5,28% ke US$96,84 per barel, membawa indeks dolar AS menguat 0,19% ke 99,41. Penguatan dolar AS dan lonjakan harga energi membuat mayoritas mata uang Asia kembali tertekan, termasuk rupiah. 

Pergerakan mata uang Asia pada Kamis 12/3/2026 (Bloomberg)

Naiknya harga minyak setelah sempat turun pada Selasa (10/3/2026) tak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta ketidakpastian durasi dari perang. Konflik itu membuat pasar kembali khawatir terhadap potensi gangguan pasokan energi global. 


Masih memanasnya Selat Hormuz bukan hanya membuat pasokan minyak terganggu tetapi juga pengiriman komoditas lainnya menjadi tersendat. Baru-baru ini, kapal kargo curah Mayuree Naree milik Thailand dihantam proyektil Iran di Selat Hormuz. 

Bagi negara-negara di kawasan Asia yang mengandalkan pasokan energi dari impor serta mengandalkan komoditas dari negara-negara di kawasan Teluk Persia, lonjakan harga akibat gangguan logistik membuat alarm risk-off pasar berdering. Termasuk bagi Indonesia yang berpotensi mengalami tekanan fiskal, mengingat besarnya beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah. 

Harga minyak Brent kembali naik US$100,75 pada Kamis siang (12/3/2026) pukul 12.02 WIB. (Bloomberg)