Logo Bloomberg Technoz

Pekan sebelumnya, pemerintah juga mengadakan lelang SUN dan mengantongi penawaran yang masuk sebesar Rp82,9 triliun, nilai tersebut lebih dari dua kali lipat target indikatif yang sebesar Rp33 triliun. 

Minat beli yang kembali muncul di pasar SUN hari ini mencerminkan adanya perubahan sentimen jangka pendek investor, menyusul redanya tekanan global. Aksi berburu SUN, khususnya di tenor pendek hingga menengah, menunjukkan investor kembali mencari aset berimbal hasil menarik dengan risiko yang relatif terukur, di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

Pergerakan yield yang turun di tenor 2Y hingga 10Y menandakan adanya ekspektasi bahwa tekanan suku bunga tidak akan seagresif beberapa pekan lalu. 

Di sisi global, pasar masih mencerna sinyal kebijakan bank sentral, khususnya Federal Reserve AS, yang mulai membuka ruang penurunan suku bunga meski belum memberikan kepastian waktu. Ketidakpastian inilah yang membuat investor cenderung parkir di obligasi pemerintah negara berkembang dengan fundamental yang dinilai cukup solid, termasuk Indonesia.

Namun, tekanan jual yang masih membayangi SUN tenor panjang mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko jangka panjang di pasar domestik. Kenaikan yield di tenor 15Y hingga 18Y menunjukkan investor meminta premi risiko lebih tinggi, terutama terkait dengan outlook fiskal dan dinamika pembiayaan pemerintah ke depan.

Kondisi fiskal, kebutuhan pembiayaan APBN yang besar, serta potensi volatilitas global masih menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan investasi jangka panjang di pasar Indonesia. 

Di sisi domestik, lelang sukuk yang berlangsung hari ini agaknya akan menjadi ujian lanjutan bagi kepercayaan pasar terhadap kemampuan pemerintah dalam menyerap pembiayaan dengan biaya yang efisien.

Jika realisasi penawaran kembali tinggi dengan tingkat yield yang kompetitif, hal ini dapat memperkuat sinyal bahwa permintaan investor terhadap surat utang negara masih terjaga. 

(riset/aji)

No more pages