Namun, pada saat pertemuan bilateral, Perdana Menteri Muhammad bin Salman memang nampak senang dengan Jokowi. Sehingga, dia menawarkan bantuan ke Indonesia dalam hal apapun.
“Waktu itu saya ingat ada investasi, ada juga waktu itu kalau tidak salah Ibu Kota Nusantara dan juga salah satunya yang topik utama pasti ke Arab Saudi itu pasti yang ada di benak semua masyarakat pasti haji,” ujarnya.
“Seingat saya itu bagian dari pembicaraan waktu itu lagi makan siang Presiden Jokowi dengan Muhammad Bin Salman. Itu sebenarnya tidak kuota spesifik tetapi pelayanan haji karena kan haji kita butuh banyak.”
Dalam pemeriksaan itu, Dito juga mengaku mendapatkan pertanyaan mengenai orang terdekatnya, yakni mertuanya yang merupakan pemilik Maktour Group, Fuad Hasan.
Namun, pertanyaan tersebut tak spesifik membahas mengenai Maktour Group.
“Enggak ada, soal Maktour saya enggak ditanyakan, hanya bagaimana dengan Pak Fuad saja. Dikit. Cuma satu pertanyaan,” ujarnya.
Perkara ini memang menyeret salah satu orang terdekat Dito, yakni mertuanya yang merupakan pemilik Maktour Group, Fuad Hasan.
KPK telah meminta Ditjen Imigrasi mencegah Fuad Hasan ke luar negeri selama enam bulan, Agustus 2025-Februari 2026.
Namun, mertua dari Dito ini menjadi satu-satunya nama yang dicegah ke luar negeri dalam kasus tersebut dan tak menjadi tersangka.
Padahal, KPK telah menetapkan dua orang yang dicegah ke luar negeri sebagai tersangka. Mereka adalah Menteri Agama 2020-2024 Yaqut Cholil Qoumas; dan eks Stafsus Menag bidang Ukhuwah Islamiyah, Ishfah Abidal Aziz.
(dov/naw)




























