Logo Bloomberg Technoz

Analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono memprediksi harga nikel dapat menembus level tersebut didukung oleh kepastian pemangkasan produksi bijih nikel dan terlambatnya penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Dia menegaskan, jika persetujuan RKAB 2026 tidak kunjung terbit dalam waktu dekat, harga nikel dunia berpotensi segera lompat dari level US$18.000/ton.

“Secara teknikal dan fundamental, estimasi angka yang bisa dicapai US$20.000/ton. Tergantung seberapa lama RKAB ‘nyangkut’,” kata Wahyu kepada Bloomberg Technoz, baru-baru ini

Lebih lanjut, Wahyu menegaskan sepanjang 2026 harga nikel dunia berpeluang bergerak ke level US$25.000/ton seiring dengan keputusan Indonesia memangkas target produksi bijih nikel pada tahun ini.

Dia menyatakan harga nikel akan sulit bergerak ke level yang lebih tinggi lagi, sebab stok logam tersebut di London Metal Exchange (LME) masih terbilang tinggi.

“Dengan kuota yang dipangkas harga akan stabil di level tinggi namun cenderung melandai karena stok LME masih cukup tinggi,” tegas Wahyu.

Dalam kesempatan terpisah sebelumnya, Tri mengakui belum menerbitkan persetujuan RKAB 2026 pada awal Januari, seiring dengan wacana pemangkasan produksi sejumlah komoditas pertambangan demi menjaga harga tahun ini.

Tri menjelaskan penyesuaian produksi komoditas minerba dalam RKAB 2026 masih dibahas oleh kementerian dan diklaim akan tuntas dalam waktu dekat.

"Enggak, sampai saat ini untuk yang RKAB tahunan 2026 belum memang. Ada beberapa penyesuaian karena terkait dengan produksi. Itu saja. Akan tetapi, sedikit lagi sudah [tuntas pembahasannya]," kata Tri saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).

Untuk itu, kata Tri, Kementerian ESDM memberikan relaksasi bagi perusahaan tambang agar tetap bisa menjalankan operasional tambang selama 3 bulan ke depan; dengan ketentuan produksi dibatasi sebesar 25% dari RKAB 2026 versi 3 tahunan.

Tri mengklaim besaran tersebut ditetapkan secara proporsional sebab kuota sebesar 25% merepresentasikan produksi yang dilakukan selama tiga bulan

Sekadar catatan, nikel dilego di harga US$17.996/ton pada Kamis (22/1/2026) di LME. Harga nikel stabil atau tak mengalami perubahan dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

(azr/wdh)

No more pages