Logo Bloomberg Technoz

Dolar AS Tergelincir, Rupiah Dibuka Menguat Terbatas

Tim Riset Bloomberg Technoz
11 March 2026 09:23

Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal perdagangan hari ini mendapat dorongan dari sentimen eksternal, setelah dolar AS tergelincir tipis dalam perdagangan pagi ini.

Pada pembukaan perdagangan Rabu (11/3/2026) rupiah menguat terbatas 0,05% ke posisi Rp16.852/US$, di saat indeks dolar AS kembali melemah tipis menjadi 98,82 setelah sempat dibuka di posisi 98,93 dalam perdagangan pagi ini.  

Investor masih menghadapi sinyal beragam dari AS terkait perang Iran serta adanya laporan keliru dari Menteri Energi AS yang menyebut kapal tanker minyak telah dikawal melewati Selat Hormuz. 


Namun, di tengah simpang siurnya kabar perang, ada angin sentimen positif berhembus bagi pasar Asia yang sangat bergantung pada minyak. Harga minyak Brent kembali turun menjadi US$87,97 per barel dari pembukaan pagi ini US$90,40 per barel ditopang oleh kabar mengenai potensi pelepasan cadangan minyak oleh negara-negara anggota International Energy Agency (IEA). 

Penurunan harga minyak itu memberi ruang penguatan bagi pergerakan harga mata uang Asia, yang hari ini cukup beragam. Hari ini rupiah menguat di posisi ketiga setelah dolar Taiwan dan yuan offshore China, yang kemudian diikuti oleh dolar Singapura dan baht Thailand. Sebaliknya won Korea Selatan, yen Jepang, peso Filipina, dan ringgit Malaysia bergerak melemah. 

Pergerakan harga mata uang di pasar Asia pada Rabu pagi (11/3/2026). (Bloomberg)