Logo Bloomberg Technoz

Namun demikian, Reydi mengingatkan bahwa risiko terhadap rupiah menjadi lebih tinggi dibandingkan kondisi normal, mengingat posisi nilai tukar saat ini sudah berada di level yang relatif lemah dan masih dibayangi arus keluar dana dari pasar keuangan.

“Memang jadi berisiko lebih tinggi dibanding kondisi normal biasanya, karena Rupiah sudah berada di level yang lemah dan akan ada outflow di pasar modal,” tutur dia.

Menurut Reydi, terdapat sejumlah faktor kunci yang akan menentukan seberapa besar dampak wacana MSCI tersebut terhadap rupiah. Faktor eksternal dan kebijakan otoritas moneter menjadi perhatian utama pelaku pasar.

“Sentimen global seperti arah kurs dolar AS, imbal hasil obligasi US yang masih menarik dan potensi investor global yang cenderung masuk ke emerging market (IHSG). Respons BI dalam mengintervensi menjadi salah satu kunci untuk menstabilisasi Rupiah,” kata Reydi.

Sebagai informasi, pasar saham Indonesia tengah mencermati rencana MSCI Inc. untuk mengubah metodologi perhitungan free float dalam penyusunan indeks global. Dana asing diperkirakan berpotensi menarik lebih dari US$2 miliar atau sekitar Rp32 triliun dari pasar saham domestik apabila kebijakan tersebut diterapkan.

Mengacu laporan Bloomberg, MSCI dijadwalkan mengambil keputusan hingga akhir Januari setelah melakukan konsultasi dengan pelaku industri. Jika disetujui, perubahan metodologi akan mulai berlaku pada peninjauan indeks MSCI pada Mei mendatang.

Indonesia tercatat memiliki rata-rata free float terendah di kawasan Asia. Apabila MSCI menilai jumlah saham yang benar-benar likuid lebih kecil dibandingkan data yang selama ini digunakan, investor pasif diperkirakan akan menyesuaikan portofolionya dengan mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia.

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi berdampak signifikan terhadap pasar saham Indonesia yang bernilai sekitar US$971 miliar, baik dari sisi aliran dana maupun persepsi investor global. Dampak penyesuaian bobot indeks diperkirakan paling terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan struktur kepemilikan terkonsentrasi.

Selain berpengaruh terhadap pasar saham, potensi arus keluar dana asing juga dinilai dapat menambah tekanan terhadap Rupiah, yang saat ini bergerak mendekati level terendahnya, di tengah berlanjutnya outflow dari pasar obligasi dan kehati-hatian investor global terhadap stabilitas fiskal serta kebijakan moneter Indonesia.

(wep)

TAG

No more pages
← Prev article

Artikel Terkait

Baca Juga

Lainnya

Bloomberg Businessweek Indonesia

Z-Zone