Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Turun, Rupiah dan Mata Uang Asia Kompak Menghijau

Tim Riset Bloomberg Technoz
10 March 2026 17:16

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah spot hari ini mendapat ruang penguatan dari meredanya tensi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang disampaikan Presiden Donald Trump.

Pada penutupan perdagangan spot hari ini, Selasa (10/3/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat 0,5% di Rp16.861/US$, di tengah penurunan indeks dolar AS 0,6% ke posisi 98,58. 

Begitu juga dengan mata uang Asia yang mayoritas bergerak di zona hijau dengan kecenderungan penguatan terhadap dolar AS. Penguatan paling signfikan terjadi pada baht Thailand yang naik 1,45%, disusul peso Filipna 1,03% diikuti ringgit Malaysia 0,93%. 


Secara keseluruhan, pergerakan mata uang Asia hari ini mencerminkan sentimen risk-on di pasar Asia. Meredanya tensi perang setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang mungkin akan segera berakhir membuat pasar emerging markets kembali diminati investor dengan melepas aset dolar AS. 

Pernyataan Trump juga ikut meredakan harga minyak yang kembali turun 7,55% ke US$91,49 per barel setelah kemarin melonjak hingga di atas US$100 per barel saat pembukaan perdagangan.