Logo Bloomberg Technoz

Ekonomi RI Butuh 'Doping', BI Rate Bisa Turun Tiga Kali Tahun Ini

Redaksi
22 January 2026 14:23

Gubernur BI, Perry Warjiyo saat pertemuan tahunan Bank Indonesia 2025 di Jakarta, Jumar (28/11/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Gubernur BI, Perry Warjiyo saat pertemuan tahunan Bank Indonesia 2025 di Jakarta, Jumar (28/11/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Arah kebijakan suku bunga acuan, BI Rate, tahun ini diperkirakan akan berpihak terhadap pertumbuhan alias pro-growth, di tengah kelesuan ekonomi domestik yang membutuhkan daya ungkit lebih besar. Akan tetapi, ketidakpastian global dan kondisi geopolitik yang terus berkecamuk masih membayangi pergerakan rupiah ke depan yang mengencangkan alarm risk-off bagi investor, jadi penentu waktu yang tepat bagi pemangkasan suku bunga ini. 

Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur kemarin (21/1/2026) menegaskan salah satu arah bauran pada awal 2026 ini adalah fokus terhadap stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini terus mengalami depresiasi hingga ke level terlemah sepanjang sejarah (all time low).

"Fokus kebijakan saat ini pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Perry dalam konferensi pers hasil RDG, Rabu (21/1/2026).


Namun, bukan berarti BI tidak berpihak terhadap pertumbuhan. Paparan RDG kemarin juga mempertegas bahwa MH Thamrin terus memantau peluang lebih lanjut untuk menurunkan suku bunga untuk mendukung pertumbuhan.

BI menyebut arah bauran kebijakan BI tahun ini, salah satunya pelonggaran moneter untuk mendorong kredit atau pembiayaan dan penurunan suku bunga perbankan.