Apalagi, inflasi Indonesia sepanjang Desember 2025 tercatat 2,92% (yoy), masih dalam sasaran 2,5 ± 1% yang ditetapkan BI untuk 2026-2027. Inflasi inti juga tetap rendah di 2,38% (yoy), menunjukkan tekanan harga masih moderat.
Hanya inflasi volatile food mencapai 6,21% (yoy), terkerek oleh harga komoditas tertentu seperti bawang merah. Namun, volatilitas rupiah yang membuat BI menahan pelonggaran suku bunga.
Kapan pelonggaran ini akan terjadi? BI akan menimbang kondisi global terutama terkait dampak terhadap pelemahan rupiah.
“Bank Indonesia masih mempertimbangkan kemungkinan penurunan suku bunga, dengan waktu pelaksanaannya bergantung pada data (data dependent),” kata Perry.
Saat ini, perekonomian global tidak dalam kondisi prima. Perlambatan ekonomi dunia terjadi di banyak negara, bukan hanya negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga di negara maju.
Pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju seperti Jepang berada dalam tren menurun. Indeks penjualan durable goods di Jepang turun dari 9 menjadi -4. Begitu juga dengan permintaan domestik menurun dari 2 menjadi -2,1.
Ekonomi China pun melambat akibat ekspor melemah menyusul perang tarif yang diberlakukan oleh AS. Di sisi lain China juga tengah menghadapi kemerosotan pasar properti yang diperkirakan akan berlanjut di tahun ini.
Sementara AS dan Eropa masih berseteru meski saat ini tensinya sudah cukup mereda setelah Presiden Trump mengatakan ia akan menahan diri untuk tidak mengenakan tarif pada barang-barang dari negara-negara Benua Biru yang menentang upayanya untuk mengambil alih Greenland. Ia beralasan telah membentuk “kerangka kesepakatan masa depan” yang telah ia sepakati mengenai pulau tersebut.
Sebelumnya, Parlemen Eropa memutuskan untuk membekukan pemungutan suara ratifikasi atas kesepakatan perdagangan antara AS dan Uni Eropa sebagai tanggapan terhadap ancaman Trump yang semakin meningkat untuk merebut Greenland. Komite perdagangan Parlemen menunda pemungutan suara tanpa batas waktu pada hari Rabu, menimbulkan keraguan apakah pakta tersebut akan pernah mencapai tahap akhir.
Lanskap perekonomian global berpengaruh signifikan terhadap prospek ekonomi domestik, sehingga pertumbuhan perlu daya ungkit lebih kuat, untuk mendorong permintaan domestik.
Tiga Kali Pelonggaran
Para ekonom memprediksi BI akan melonggarkan kebijakan moneter untuk mendukung pertumbuhan tahun ini. BI diperkirakan akan memangkas suku bunga dengan total 75 basis poin (bps) sepanjang 2026, dengan masing-masing 25 bps dalam setiap pemangkasan.
“Kemungkinan besar bank sentral akan mempertahankan suku bunga saat ini hingga kuartal I dan mungkin hingga kuartal II-2026,” kata Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, dalam catatannya.
BI juga mengaitkan rupiah rentan terhadap tekanan jual sampai ketidakpastian tentang batas defisit anggaran. Pertumbuhan ekonomi 2025 diperkirakan berada di rentang 4,7-5,5% dan pada 2026 menjadi 4,9-5,7%.
Meski begitu, Henderson menggarisbawahi target pertumbuhan ini agak sulit mencapai 5,1%. "Investasi swasta akan terhambat oleh kekhawatiran bahwa disiplin fiskal dan moneter akan semakin melemah di bawah pemerintahan Prabowo," kata Henderson.
Kebutuhan akan pelonggaran moneter begitu mendesak terutama karena situasi ekonomi domestik yang lesu. Kinerja fiskal terakhir menggambarkan kondisi ini.
Pada 2025 terjadi kekurangan pendapatan negara sebesar Rp248,8 triliun. Realisasi pendapatan 'hanya' Rp2.756,3 triliun dari target Rp3.005,1 triliun. Jika ingin memperbaiki kondisi fiskal, setidaknya pemerintah harus mengejar tambahan pendapatan sebanyak Rp397 triliun dari angka realisasi tahun lalu.
Dengan kondisi pelemahan ini, sinyal pemangkasan BI Rate ke depan menjadi cukup kuat, dan bisa terjadi ketika rupiah tidak dalam posisi aman dan stabil.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas memperkirakan BI akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali di tahun ini, pada kuartal II hingga kuartal IV dengan masing-masing kuartal 25 bps. "Minimal [pemangkasan tahun ini sebanyak] 75 bps," kata Lionel.
(dsp/aji)




























