Rupiah Lesu, Defisit APBN Bisa Melebar
Redaksi
21 January 2026 13:12

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pelemahan rupiah terus berlanjut sejak awal tahun, dan membuat nilai tukar terhadap dolar AS susut hampir 2%. Hingga siang ini, Rabu (21/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergejolak.
Hari ini, rupiah di pasar kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) bergerak di rentang Rp16.982-Rp16.989/US$. Sementara dari pasar spot, rupiah bergerak di rentang Rp16.950-Rp16.964/US$.
Jika terus berlanjut, pelemahan rupiah punya dampak yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dengan langsung menyentuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sebagai dompet atau uang kas negara yang membiayai hampir semua layanan publik di negeri ini.
APBN terdiri dari penerimaan perpajakan (penerimaan pajak serta kepabeanan dan cukai), Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan hibah. Masalahnya, rupiah melemah saat APBN tidak dalam kondisi longgar dengan posisi defisit fiskal yang melebar.
Tahun lalu, Kementerian Keuangan hanya berhasil mengantongi penerimaan pajak sebesar Rp1.917,6 triliun. Angka ini hanya 87,6% dari target APBN 2025 yang sebesar Rp2.189,3 triliun.




























