Logo Bloomberg Technoz

Indonesia Beda, Bisa Tetap Kuat Walau Harga Minyak Melesat

Redaksi
10 March 2026 18:24

SPBU Pertamina./Bloomberg-Dimas Ardian
SPBU Pertamina./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta - Situasi perekonomian dunia sedang tidak baik-baik saja. Terbaru, konflik di Timur Tengah yang memanas memunculkan risiko baru.

Akhir pekan lalu, Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan terhadap Iran. Serangan yang sampai membuat nyawa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei melayang.

Perang tersebut sudah berlangsung lebih dari sepekan. Dampak yang paling nyata adalah kenaikan harga minyak, karena dua pertiga pasokan minyak dunia berasal dari kawasan Timur Tengah. Perang tentu menyebabkan gangguan rantai pasok, sehingga harga pun meroket.


Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup melesat 6,76% ke US$ 98,96/barel. Harga minyak brent pun genap naik tujuh hari beruntun. Selama tujuh hari tersebut, harga terdongkrak 40%.

Mengutip riset MUFG, pergerakan harga minyak akan sangat mempengaruhi nasib mata uang Asia. Sejumlah mata uang yang akan mengalami dampak yang paling berat adalah won Korea Selatan, rupee India, dan peso Filipina. Ini karena impor minyak yang tinggi di negara-negara tersebut.