Penguatan rupiah sejalan dengan penurunan indeks dolar AS sejak kemarin turun 0,26% ke posisi 99,134 lalu susut lagi sebesar 0,76% ke Rp98.641.
Pergerakan rupiah NDF offshore kali ini lebih kuat dibanding level penutupan rupiah spot kemarin di Rp16.950/US$ yang menjadi posisi terlemah dalam sejarah rupiah.
Di pasar Asia, kebanyakan mata uang bergerak beragam. Penguatan terjadi pada baht Thailand dan ringgit Malaysia. Sementara, won Korea Selatan, yen Jepang, dolar Singapura, dolar Hong Kong, bergerak melemah.
Pelaku pasar global masih mencermati arah The Fed yang kini sedang mengalami krisis independensi dan disebut-sebut kesulitan memilih kandidat yang sesuai keinginan Trump.
"Tidak akan mudah menemukan pilihan yang disukai Presiden Trump dan pasar obligasi, kecuali jika Trump secara fundamental mempertimbangkan kembali apa yang dia cari," kata Tobin Marcus, kepala kebijakan dan politik AS di Wolfe Research, seperti dikutip Bloomberg News.
Saat ini, daftar kandidat pilihan Trump terdiri dari Kevin Hasset yang menjabat sebagai Dewan Ekonomi Nasional AS, Rick Rieder Senior Managing Director BlacRock, Christopher Waller salah satu Gubernur The Fed saat ini, dan Kevin Warsh mantan anggota dewan Gubernur Fed.
Pelaku pasar juga mungkin masih mengamati arah pergerakan kebijakan moneter bank sentral Indonesia dengan pergantian deputi gubernur yang baru.
Analisis Teknikal
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), rupiah berpotensi rebound meski dengan laju penguatan yang terbatas. Resistance terdekat menuju level Rp16.940/US$, dengan target selanjutnya Rp16.920/US$.
Jika nantinya berhasil break kedua resistance tersebut, maka rupiah berpotensi menguat lebih lanjut dengan menembus level Rp16.900/US$. Resistance terkuat ada di Rp16.850/US$.
Namun kalau rupiah malah melemah, maka support yang menarik dicermati ada di level Rp16.980/US$. Target berikutnya ada di Rp17.000-17.050/US$ yang secara potensial menahan rupiah.
(riset/aji)


























