Logo Bloomberg Technoz

Sudirman memandang kenaikan harga sejumlah komoditas logam pada awal tahun ini didorong oleh kombinasi pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), ekspektasi pelonggaran suku bunga Bank Sentral AS (Federal Reserve), isu geopolitik usai serangan militer ke Venezuela, serta lonjakan permintaan dari sektor teknologi dan energi terbarukan.

Dia menegaskan permintaan logam dasar untuk pembangunan penyimpanan data berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), dan infrastruktur energi baru terbarukan (EBT) menciptakan kebutuhan logam yang bersifat jangka panjang dan relatif tahan terhadap siklus ekonomi.

Hal tersebut, menurut dia, turut diperkuat gangguan pasokan dan keterbatasan produksi global yang berpotensi memperketat keseimbangan pasar.

“Soal keberlanjutan reli ini, tidak bisa dipastikan dan diprediksi. Namun, fundamental permintaan yang didorong oleh transisi energi dan digitalisasi memberikan dasar yang lebih kuat daripada sekadar siklus komoditas biasa,” papar dia.

“Namun, pasar juga menunjukkan volatilitas spekulatif yang signifikan, yang dapat membuat harga bergerak lebih tajam dari fundamental jangka panjangnya — sehingga perlu kehati-hatian dalam penilaian jangka pendek,” tegas Sudirman.

Sekadar informasi, harga tembaga kembali menguat seiring melemahnya dolar akibat ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif atas Greenland, dan pertumbuhan ekonomi China mencapai target pemerintah.

Trump mengatakan dia akan mengenakan tarif pada delapan negara Eropa — termasuk Jerman dan Inggris — yang menentang rencananya untuk mengakuisisi Greenland.

Pungutan tersebut membuat logam mulia melonjak karena investor mencari tempat berlindung, dan sebagian dari itu tampaknya meluas ke logam dasar, meskipun perang dagang AS-Eropa kemungkinan akan berdampak negatif pada permintaan industri.

Tembaga telah menguat selama lima bulan terakhir karena kekurangan pasokan serta permintaan yang didukung oleh booming industri AI, yang mendorong konsumsi logam yang digunakan dalam kabel dan peralatan energi terbarukan.

Timah yang digunakan dalam elektronik dan kemasan sempat melonjak hingga 6% menjadi US$52.495/ton di London Metal Exchange (LME), sehingga kenaikannya sejak awal tahun mendekati 30% dan melampaui puncak yang tercatat pada 2022.

Harga tembaga naik 1,3% menjadi US$12.965/ton di LME pada Senin (19/1/2026) pukul 11:15 pagi di Shanghai. Nikel melonjak 2,6% dan timah naik 2,8%, sementara aluminium naik 0,8%.

Adapun, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengakui belum menerbitkan persetujuan RKAB 2026 pada awal Januari, seiring dengan wacana pemangkasan produksi sejumlah komoditas pertambangan demi menjaga harga tahun ini.

Tri menjelaskan penyesuaian produksi komoditas minerba dalam RKAB 2026 masih dibahas oleh kementerian dan diklaim akan tuntas dalam waktu dekat.

"Enggak, sampai saat ini untuk yang RKAB tahunan 2026 belum memang. Ada beberapa penyesuaian karena terkait dengan produksi. Itu saja. Akan tetapi, sedikit lagi sudah [tuntas pembahasannya]," kata Tri saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).

Untuk itu, kata Tri, Kementerian ESDM memberikan relaksasi bagi perusahaan tambang agar tetap bisa menjalankan operasional tambang selama 3 bulan ke depan; dengan ketentuan produksi dibatasi sebesar 25% dari RKAB 2026 versi 3 tahunan.

Tri mengklaim besaran tersebut ditetapkan secara proporsional sebab kuota sebesar 25% merepresentasikan produksi yang dilakukan selama tiga bulan.

-- Dengan asistensi Pramesti Regita Cindy

(azr/wdh)

No more pages