Logo Bloomberg Technoz

"Satu hal yang mungkin menjadi tantangan utama PT Vale adalah terkait dengan realisasi harga nikel. Seperti yang kita ketahui bersama, sepanjang 2025 harga nikel itu relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," ungkap Anto

"Namun, pada variabel-variabel yang bisa kita kontrol seperti produksi dan biaya, PT Vale membubuhkan kinerja yang sangat baik," ujarnya.

Mengutip dari paparannya, hingga November 2025, perseroan mencatatkan total produksi nickel matte sebanyak 66.848 ton, tumbuh sekitar 3% secara tahunan atau year on year (yoy).

Sementara itu, kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan kinerja perseroan berasal dari lini penjualan bijih nikel saprolit yang bersumber dari wilayah Pomala dan Bahodopi.

Volume penjualan bijih nikel hingga November 2025 tercatat mencapai 1.905.740 wet metric ton (wmt), melampaui target RKAP yang dipatok sebesar 1,36 juta ton.

Harga Jual

Meski demikian, perseroan masih menghadapi tekanan dari sisi harga jual. Anto menegaskan realisasi harga nikel sepanjang 2025 berada di bawah proyeksi awal, sehingga menjadi faktor utama yang membatasi kinerja keuangan perusahaan.

Sebagai catatan, nikel dilego di harga US$18.133/ton pada pagi ini di London Metal Exchange (LME), menghijau 3,16% dari penutupan hari sebelumnya.

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

(prc/wdh)

No more pages