Proyek tersebut diklaim menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja dan ditargetkan mulai berproduksi pada Agustus 2026 dengan kapasitas sebesar 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun.
"Diharapkan di Pomala pada Agustus bisa selesai paling tidak dua autoclave, dua line. Kemudian, nanti secara reguler, secara bertahap pada Januari 2027 itu sudah selesai semuanya," ungkapnya.
Sementara itu, proyek smelter Morowali telah memasuki progres operasional. Blok Bahodopi dengan luas 22.699 hektare dilaporkan telah mulai beroperasi sejak kuartal I-2025.
Untuk sektor tambang, konstruksi Fase 1 telah mencapai 99% dan kini perusahaan berfokus pada persiapan penyelesaian Fase 2 yang ditargetkan rampung pada 2027.
Adapun, pembangunan pabrik HPAL hasil kemitraan dengan GEM dan EcoPro, berkapasitas 66.000 ton per tahun MHP telah mencapai progres 22% dan ditargetkan mulai beroperasi pada rentang 2026 hingga 2027. Total investasi proyek ini mencapai US$2 miliar.
Adapun, di Sulawesi Selatan, PT Vale bersama Huayou tengah mengembangkan proyek IGP Sorowako Limonite di Blok Sorowako seluas 70.566 hektare untuk mendukung hilirisasi nikel limonit.
Pembangunan tambang saat ini telah mencapai 37%, sedangkan progres pabrik HPAL berada di angka 17%. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027.
Meski demikian, Bernadus tidak menampik bilamana progres dari IGP Sorowako menjadi yang paling lambat dibandingkan dua smelter lainnya, karena lambatnya usaha dari pihak ketiga.
"Di Sorowako, ini ada joint venture juga antara Vale dan Huayou, walaupun partner yang kemudian akan menjadi partner ketiga masih dalam assessment. Namun, ini mungkin secara progres ini yang paling terlambat dibandingkan dengan Pomala dan Bahodopi," tegasnya.
Tambah Kuota
Pada kesempatan tersebut, Vale meminta dukungan tambahan kuota produksi bijih nikel (ore) kepada DPR, meski perusahaan telah memperoleh persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Bernadus mengungkapkan kuota produksi yang diberikan dalam RKAB saat ini hanya sekitar 30% dari volume yang diajukan.
Angka tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi komitmen pasokan ke sejumlah proyek smelter yang tengah dikembangkan Vale bersama para mitra strategisnya. Bagaimanapun, dia tidak menyebutkan berapa persisnya volume produksi bijih yang diajukan Vale dalam RKAB 2026 ke Kementerian ESDM.
"Jadi yang kemudian menjadi permohonan dukungan kami adalah terkait dengan kuota penambangan atau produksi ore dari tambang kami di Pomalaa, Bahodopi, dan Soroako," kata Bernadus.
"Saat ini kami sudah memperoleh approval atau persetujuan atau pengesahan RKAB. Namun demikian, kuota yang diberikan kepada Vale sekitar 30% dari apa yang kami minta kemungkinan bisa tidak akan bisa memenuhi komitmen-komitmen kami terhadap pabrik-pabrik yang tadi saya jelaskan di atas," sambungnya.
Menurut Bernadus, yang biasa disapa Anto, keterbatasan kuota berisiko mengganggu jadwal pasokan bahan baku ke mitra industri sekaligus berdampak terhadap komitmen perusahaan kepada para pemegang saham.
Untuk itu, Vale berharap pemerintah membuka ruang revisi RKAB agar volume produksi bisa disesuaikan dengan kebutuhan riil proyek hilirisasi yang sudah berjalan.
"Jadi mudah-mudahan kami PT Vale bisa mendapatkan kesempatan untuk menganjurkan revisi RKAB dan juga mendapatkan volume yang cukup untuk memenuhi komitmen terhadap partner dan juga komitmen terhadap pemegang sang kami," harapnya.
(prc/wdh)



























