Canola dan rapeseed adalah pesaing CPO, karena berbagai komoditas tersebut bisa saling menggantikan. Saat harga canola dan rapeseed di China akan lebih murah karena penyesuaian tarif impor. maka ada kemungkinan permintaan CPO di Negeri Tirai Bambu akan berkurang.
Padahal China adalah salah satu konsumen CPO terbesar dunia. Saat permintaan China turun, maka akan sangat mempengaruhi pembentukan harga.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana proyeksi harga CPO untuk hari ini, Selasa (20/1/2026)? Apakah bisa bangkit atau malah kian terjepit?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), CPO masih tersangkut di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 49.
RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Namun RSI CPO belum jauh dari 50 sehingga boleh dibilang cenderung netral.
Sementara indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 98. Jauh di atas 80 yang berarti sudah sangat jenuh beli (overbought).
Untuk perdagangan hari ini, harga CPO masih berisiko turun. Target support terdekat ada di MYR 4.035/ton yang merupakan Moving Average (MA) 5. Jika tertembus, maka MA-10 di MYR 4.028/ton bisa menjadi target selanjutnya.
Cermati pivot point di MYR 4.003/ton. Penembusan di titik ini bisa saja membuat harga CPO longsor dengan target paling pesimistis atau support terjauh MYR 3.865/ton.
Namun andai harga CPO bisa bangkit, maka MYR 4.074/ton bisa menjadi target resisten terdekat. Dari sini, harga bisa merangsek ke level MYR 4.080-4.096/ton.
(aji)




























