Di sisi eksternal, pasar keuangan domestik masih dihadapkan pada tekanan global.
Sentimen risk-off mendorong penguatan indeks Dollar AS (DXY), yang berdampak pada pelemahan nilai tukar Rupiah. Rupiah tercatat pertama kali ditutup di atas level 16.800 per Dollar AS sejak April 2025.
Kondisi tersebut turut membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter. Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi Rupiah membuat Bank Indonesia memiliki ruang yang terbatas untuk menurunkan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20–21 Januari 2026.
“Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” jelas Rully.
Dalam jangka menengah, Rully memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat menjadi 5,3% pada 2026, dibandingkan sekitar 5,1% pada 2025.
Menurutnya, pencapaian tersebut akan sangat ditentukan oleh efektivitas kebijakan fiskal dalam mendorong belanja produktif sekaligus menjaga kesinambungan pertumbuhan.
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG 10.500. Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” tambahnya.
Dalam perspektif jangka panjang, konsistensi kebijakan dan kepastian arah ekonomi dinilai berperan penting dalam memperkuat kepercayaan investor.
Dari sisi sektoral, penguatan IHSG sejak awal tahun ditopang saham-saham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS, seiring potensi berlanjutnya kenaikan harga komoditas, khususnya emas, di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Selain komoditas, sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi juga berpotensi menjadi pendorong IHSG, didukung oleh pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan investasi jaringan yang berkelanjutan,” tutup Rully.
Dengan kombinasi penguatan pasar sejak awal tahun, prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, serta peluang keselarasan kebijakan moneter dan fiskal, Mirae Asset tetap bersikap optimistis terhadap kinerja pasar saham Indonesia sepanjang 2026.
(rtd/naw)





























