Isu global tetap menjadi perhatian setelah pasukan AS menyita dua kapal tanker minyak tambahan yang masuk daftar sanksi, sebagai bagian dari kebijakan karantina energi terhadap Venezuela. Para pemimpin Eropa juga menyatakan dukungan terhadap Denmark, menyusul Presiden Donald Trump yang kembali memperkeras ancamannya untuk mengambil alih Greenland.
Di AS, unggahan Trump di media sosial menekan saham sektor perumahan dan pertahanan. Trump menyatakan tidak akan mengizinkan perusahaan pertahanan membagikan dividen atau melakukan pembelian kembali saham sebelum mereka meningkatkan investasi pada produksi dan riset. Sementara itu, saham Valero Energy Corp memimpin penguatan sektor pengilangan setelah Trump mengatakan Venezuela akan menyerahkan jutaan barel minyak kepada AS.
Di Asia, sejumlah data ekonomi yang dijadwalkan rilis mencakup upah tunai tenaga kerja di Jepang, data perdagangan Australia, serta indeks kepercayaan konsumen Thailand.
Nilai tukar yen melemah pada Rabu menjelang lelang obligasi pemerintah Jepang tenor 30 tahun. Pada Selasa, imbal hasil obligasi jangka panjang Jepang naik setelah lelang obligasi tenor 10 tahun yang relatif mulus gagal meredakan kekhawatiran pasar terkait kondisi fiskal dan inflasi.
Di tempat lain, China memulai penyelidikan anti-dumping terhadap bahan utama pembuatan chip asal Jepang, yang semakin meningkatkan ketegangan antara dua ekonomi terbesar di Asia.
Di pasar komoditas, harga tembaga turun dari rekor tertingginya pada Rabu, seiring logam industri lainnya melemah akibat aksi ambil untung setelah lonjakan harga yang cepat. Kontrak berjangka tembaga, nikel, dan seng masing-masing turun lebih dari 2% pada penutupan perdagangan di London Metal Exchange.
Harga minyak memperpanjang pelemahan setelah Washington meningkatkan kontrol terhadap industri Venezuela. Komando Eropa militer AS menyatakan pasukan AS menyita kapal berbendera Rusia yang terkait Venezuela di Atlantik Utara. Minyak West Texas Intermediate diperdagangkan di bawah US$57 per barel.
Investor juga memantau pasar obligasi primer, seiring pekan pertama 2026 mencatat lonjakan penerbitan global, yang menandakan kepercayaan pasar tetap kuat meski risiko geopolitik meningkat.
Penerbitan obligasi korporasi investment grade di AS mencapai lebih dari US$72 miliar dalam dua hari pertama pekan ini, menjadi dua sesi tersibuk sepanjang sejarah, menurut data Bloomberg. Di Eropa, para penerbit membawa jumlah tranche terbanyak ke pasar pada Rabu dan diperkirakan menghimpun dana hingga €61 miliar (US$71,2 miliar).
Reli obligasi pemerintah AS sedikit tertahan setelah aktivitas sektor jasa AS pada Desember tercatat tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari setahun, didorong oleh permintaan yang kuat dan peningkatan perekrutan tenaga kerja. Data sebelumnya dari ADP Research diterima lebih positif oleh pasar obligasi setelah menunjukkan pertumbuhan perekrutan yang moderat pada Desember, mengindikasikan momentum ekonomi yang melambat menjelang 2026.
Secara keseluruhan, data ekonomi tersebut dinilai positif oleh Adam Crisafulli dari Vital Knowledge, meski ia mengingatkan pelemahan pada indeks S&P 500 versi equal-weight—yang memberi bobot setara antara Dollar Tree Inc dan Apple Inc—serta pada saham-saham perusahaan kecil perlu dicermati.
“Pergerakan harga dasarnya terlihat lemah,” kata Crisafulli. Dengan ekspektasi pelaku pasar swap yang telah memperhitungkan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada 2026, perhatian pasar akan segera beralih ke laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls AS untuk Desember yang akan dirilis Jumat.
Saham-saham sebelumnya menguat berkat optimisme terhadap pertumbuhan laba yang solid dan inflasi yang dinilai cukup terkendali sehingga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dapat terus memangkas biaya pinjaman. Pandangan optimistis tersebut bertahan meski latar belakang geopolitik memburuk, termasuk langkah AS di Venezuela, ancaman intervensi di wilayah lain, serta meningkatnya ketegangan antara China dan Jepang.
Selain laporan ketenagakerjaan pada Jumat, pelaku pasar juga akan mencermati putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif global Trump yang dijadwalkan diumumkan pada hari yang sama.
(bbn)




























