Logo Bloomberg Technoz

Dengan begitu, setiap gangguan pasokan yang terjadi di Tanah Air berpotensi memengaruhi harga nikel dunia.

Lukman menilai dibatasinya produksi tambang menjadi 25% dari total rencana produksi 2026 hingga 31 Maret mendatang berpotensi mengurangi pasokan nikel dari Indonesia di pasar global, hingga harga nikel bergerak di level US$18.000—US$18.500 per ton.

“[Produksi dibatasi hingga Maret] 25% sangat besar dibandingkan estimasi global oversupply pada 2026 hanya 7%—8%. Jangka pendek [harga nikel dunia berpotensi] US$18.000—18.500 [per ton],” kata Lukman ketika dihubungi.

Adapun, pada awal tahun ini, rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tambang untuk periode 2026 belum diterbitkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Sebagai jalan tengah, Kementerian ESDM mengizinkan perusahaan beroperasi dengan kuota produksi 25% dari target RKAB eksisting 2026.

Adapun, ketentuan itu berlaku sampai 31 Maret 2026 dan tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 2.E/HK.03/DJB/2025 tentang RKAB 2026 yang diteken Dirjen Minerba pada 31 Desember 2025.

Dengan begitu, perusahaan tambang tetap dapat menjalankan penambangan paling banyak 25% dari rencana produksi 2026 yang tertuang dalam RKAB tiga tahunan, meskipun penyesuaian RKAB 2026 belum disetujui.

Sebelumnya, Kementerian ESDM mengakui belum menerbitkan persetujuan RKAB 2026 pada awal Januari, seiring dengan wacana pemerintah memangkas produksi sejumlah komoditas pertambangan demi menjaga harga tahun ini.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan penyesuaian produksi komoditas minerba dalam RKAB 2026 masih dibahas oleh kementerian dan diklaim akan tuntas dalam waktu dekat.

Enggak, sampai saat ini untuk yang RKAB tahunan 2026 belum memang. Ada beberapa penyesuaian karena terkait dengan produksi. Itu saja. Akan tetapi, sedikit lagi sudah [tuntas pembahasannya],” kata Tri saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).

Tri mengklaim besaran tersebut ditetapkan secara proporsional sebab kuota sebesar 25% merepresentasikan produksi yang dilakukan selama tiga bulan

“Oh ya, itu kan tarikan dari yang 3 tahun kan? Yang 3 tahun ditarik ke sampai dengan Maret 31. Total 100% kan sampai dengan Desember. Kalau sampai Maret kan berarti 25%-nya,” lanjut Tri.

Adapun, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) harus menyetop sementara operasional tambang gegara ngaretnya penerbitan RKAB tersebut. Alasannya, perseroan tidak memiliki RKAB 2026 versi tiga tahunan.

Tri menyatakan RKAB eksisting yang dimiliki Vale Indonesia telah berakhir masa berlakunya, sedangkan syarat operasional dengan memanfaatkan masa transisi RKAB adalah harus memiliki RKAB 2026 versi tiga tahunan.

Di sisi lain, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menyatakan Kementerian ESDM berencana memangkas target produksi bijih nikel tahun depan menjadi 250 juta ton, merosot lebar dari target produksi tahun ini sebanyak 379 juta ton.

Sementara itu, nikel dilego di harga US$18.524/ton pada penutupan Selasa (6/1/2026) di London Metal Exchange (LME), menguat 8,95% dari penutupan hari sebelumnya.

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000 per ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

(azr/wdh)

No more pages