Logo Bloomberg Technoz

Realisasi ekspor juga tercatat lebih rendah dari konsensus pasar, yang sedianya berada di angka -1,85% menjadi -6,60%. Begitu juga dengan realisasi impor yang lebih rendah dari konsensus 3,61% menjadi hanya 0,46%. 

Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan pada Senin (5/1/2026), penyebab turunnya nilai ekspor sektor pertambangan karena turunnya nilai ekspor batu bara, bijih tembaga, lignit, bijih zirconium, tantalum hingga bijih titanium.

Memang, ekspor Indonesia masih bergantung pada komoditas primer yang sensitif terhadap siklus global dan normalisasi harga. Sehingga saat harga komoditas seperti batu bara, crude palm oil alias minyak kelapa sawit, nikel, dan produk mineral mentah mengalami fluktuasi harga, kinerja ekspor ikut jadi lesu. 

Sementara dari sisi impor yang hanya tumbuh 0,46% menjadi indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi domestik belum bergerak sesuai ekspektasi. 

(riset/aji)

No more pages