Logo Bloomberg Technoz

IHSG Menguat Awal 2026, Optimisme Investor Terus Naik

Redaksi
02 January 2026 21:02

Karyawan di depan layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (26/11/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan di depan layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (26/11/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar keuangan Indonesia mengawali tahun 2026 dengan performa yang sangat meyakinkan.

Indeks Harga Saham Gabungan mencatat penguatan signifikan pada hari perdagangan pertama tahun ini. Kenaikan tersebut menjadi penanda kuat bahwa optimisme investor terhadap prospek ekonomi nasional terus meningkat.

IHSG melonjak sebesar 1,17% dan ditutup di level 8.748,13. Capaian ini tidak hanya mencerminkan euforia awal tahun, tetapi juga memperlihatkan keyakinan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Sentimen positif global dan meningkatnya minat terhadap aset berisiko ikut memperkuat pergerakan tersebut.

Penguatan IHSG dinilai sebagai sinyal penting bagi arah pasar sepanjang 2026. Kinerja awal tahun sering kali dipandang sebagai indikator psikologis bagi pelaku pasar. Dalam konteks ini, lonjakan indeks memberikan dorongan kepercayaan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi fase pertumbuhan baru bagi pasar saham Indonesia.

Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menilai pergerakan IHSG di awal tahun sebagai pesan yang sangat jelas dari pasar. Menurutnya, investor global menangkap sinyal positif dari kombinasi faktor domestik dan eksternal yang mendukung Indonesia.

Chief Economist IQI Global, Shan Saeed

“Pasar saham Indonesia telah memberikan sinyal yang sangat jelas. Pada hari perdagangan pertama 2026, IHSG melonjak 1,17% ke level 8.748,13, dan ini menetapkan nada optimistis untuk tahun yang berpotensi menjadi tahun terobosan," kata Shan.

Shan menambahkan bahwa prospek pasar saham Indonesia ke depan semakin menarik bagi investor. Ia menyebut konsensus pasar saat ini masih membuka ruang kenaikan yang sehat sepanjang tahun. Faktor permintaan domestik yang kuat menjadi salah satu pendorong utama optimisme tersebut.

“Konsensus saat ini memperkirakan potensi kenaikan pasar sebesar 8 hingga 10 persen sepanjang 2026, ditopang oleh permintaan domestik yang tangguh dan meningkatnya kepercayaan investor,” ujarnya.

Dari sisi valuasi, Shan menilai pasar saham Indonesia masih berada di bawah rata rata historisnya. Kondisi ini membuat ruang apresiasi harga saham masih cukup besar dibandingkan dengan pasar lain di kawasan. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi investor global yang bersikap selektif.

“Bagi investor global yang selektif, Indonesia semakin menjadi pilar utama pasar berkembang dengan kualitas tinggi,” kata Shan.

Reli Asia dan Fondasi Makro yang Terjaga

Optimisme terhadap IHSG juga sejalan dengan dinamika pasar regional Asia. Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, melihat penguatan IHSG sebagai bagian dari reli yang lebih luas di kawasan. Bursa saham Asia secara umum mengalami penguatan seiring kembalinya minat beli investor setelah aksi ambil untung di akhir 2025.

“IHSG meningkat sekitar 1,2% ke level 8.748 seiring dengan kenaikan luas bursa saham Asia, didorong oleh aksi beli kembali saham oleh investor setelah profit taking di akhir 2025.”

Selain faktor regional, Andry menekankan bahwa kondisi makro ekonomi domestik tetap berada dalam jalur yang solid. Data terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur masih tumbuh, meski dengan laju yang lebih moderat. Hal ini menandakan ketahanan permintaan domestik masih menjadi penopang utama ekonomi.

"PMI manufaktur Indonesia memang melandai ke 51,2 pada Desember, namun masih berada di zona ekspansi, dengan permintaan domestik tetap menjadi penopang utama,” ujarnya.

Dari sisi aliran dana, pasar keuangan Indonesia juga mencatatkan sinyal positif. Investor asing kembali mencatatkan arus masuk bersih ke pasar saham. Hal ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas dan prospek ekonomi Indonesia di mata investor global.

"Investor asing mencatatkan arus masuk bersih sekitar Rp1,1 triliun ke pasar saham, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke 6,05%, mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas makro Indonesia," terang Andry.

Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah menjadi indikator tambahan bahwa risiko Indonesia dipersepsikan semakin terkendali. Yield yang lebih rendah mencerminkan permintaan yang lebih kuat terhadap surat utang negara, sekaligus ekspektasi inflasi dan stabilitas fiskal yang terjaga.

Kombinasi antara penguatan pasar saham, masuknya dana asing, dan turunnya yield obligasi menunjukkan Indonesia memulai 2026 dari posisi yang relatif kuat. Faktor ini memberikan bantalan yang penting di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.

Dukungan kebijakan ekonomi yang kredibel turut memperkuat sentimen positif pasar. Konsistensi pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas makro menjadi fondasi utama kepercayaan investor. Di sisi lain, konsumsi domestik yang solid terus berperan sebagai mesin pertumbuhan.

Dengan valuasi pasar yang masih atraktif, Indonesia semakin dipandang sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara. Penguatan IHSG di awal tahun tidak sekadar mencerminkan reli jangka pendek. Pasar melihatnya sebagai bagian dari fase penguatan yang lebih berkelanjutan sepanjang 2026.