Logo Bloomberg Technoz

Awali 2026, Rupiah Terlemah Ketiga di Asia

Tim Riset Bloomberg Technoz
02 January 2026 16:14

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah di pasar spot masih menghadapi tekanan. Dalam perdagangan Jumat (2/1/2026) rupiah masih tertekan dan ditutup melemah 0,21% di posisi Rp16.725/US$. 

Menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) membuat beberapa mata uang di kawasan juga melemah. Seperti won Korea Selatan masing-masing tergerus cukup dalam sebesar 0,43%, disusul rupee India terkoreksi 0,28%, yen Jepang 0,11%, dolar Hong Kong turun 0,09%, dolar Singapura 0,08%  

Di sisi lain, baht Thailand berada di zona hijau setelah melonjak sebesar 0,59%, offshore renminbi China 0,6%, dan ringgit Malaysia naik 0,10%.  


Hari ini, rupiah menjadi yang terlemah ketiga di kawasan. Rupiah berada pada posisi yang relatif lebih rentan, karena adanya peningkatan kebutuhan pembiayaan fiskal serta ketergantungan pada arus portofolio asing. 

Pergerakan mata uang Asia per Jumat 2 Januari 2026. (Bloomberg).

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah masih ada lantaran terbentuknya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia (BI). Dengan potensi lonjakan inflasi pada kuartal I-2026, baik karena faktor musiman maupun dorongan permintaan, dan pelebaran defisit APBN yang menuntut pembiayaan besar, ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan moneter mungkin masih akan terbatas.