Logo Bloomberg Technoz

Usai Libur Panjang, Rupiah Terlemah di Asia

Tim Riset Bloomberg Technoz
18 February 2026 15:44

Warga menukarkan uang dolar AS ke rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Warga menukarkan uang dolar AS ke rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup pedagangan hari pertama di pekan ini dengan penyusutan dan memimpin mata uang Asia di zona merah. 

Rupiah tertekan dan susut sebesar 0,27% ke level Rp16.884/US$ dalam sesi penutupan perdagangan Rabu (18/2/2026), sejalan dengan kembali menguatnya indeks dolar AS sebesar 0,15% ke posisi 97,3. Tekanan ini menandai berlanjutnya fase defensif pelaku pasar terhadap aset berisiko, terutama di pasar negara berkembang. 

Data ekonomi AS yang relatif solid serta ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama dari The Fed kembali memperkuat posisi greenback. Imbal hasil US Treasury tenor 10Y masih bertahan di atas 4%, agaknya semakin mempersempit ruang apresiasi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.


Dari pasar Asia, penguatan dolar ini membuat mata uang lainnya ikut tertekan, seperti yen Jepang, baht Thailand, dolar Singapura, dan dolar Hongkong. Hanya peso Filipina, rupee India, dan yuan offshore China yang terapresiasi pada sore hari ini. 

Pergerakan mata uang Asia dalam perdagangan sore ini, Rabu (18/2/2026). (Bloomberg).

Di saat pasar valas melemah, pasar Surat Utang Negara (SUN) justru menunjukkan ketahanannya. Sentimen bullish yang mulai terbentuk sejak akhir pekan lalu masih berlanjut hingga sore ini. Hampir seluruh tenor mengalami penurunan imbal hasil (yield), terutama pada tenor pendek dan menengah.