Ia menambahkan, banyak populasi Rafflesia ditemukan tumbuh di luar kawasan konservasi, bahkan di lahan masyarakat yang berdekatan dengan kebun kopi dan sawit. Fenomena ini menunjukkan perlunya konservasi yang melibatkan partisipasi aktif komunitas lokal.
"Jika tidak disertai edukasi yang baik, keberadaan Rafflesia bisa terancam hilang akibat aktivitas manusia," tambahnya, menekankan bahwa konservasi tidak dapat hanya mengandalkan kawasan lindung formal.
Pemetaan Genom Penuh dan Peluang Spesies Baru
Secara ilmiah, riset ini menggunakan pendekatan canggih Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memetakan keseluruhan genom Rafflesia. Metode ini jauh lebih detail dibandingkan penelitian DNA sebelumnya yang hanya meneliti potongan gen kecil (500–1500 base pair).
"Dalam penelitian ini, kami memetakan jutaan pasangan basa untuk mendapatkan gambaran utuh genom Rafflesia," papar Joko.
Pemetaan WGS ini diharapkan mampu mengidentifikasi kemungkinan adanya spesies baru di Indonesia. Adanya perbedaan signifikan pada data WGS dapat menjadi indikasi spesies baru dan ini akan menjadi fokus penelitian berikutnya.
Sebagai penutup riset, BRIN berencana menyusun policy paper atau naskah kebijakan sebagai rekomendasi strategi konservasi Rafflesia nasional.
"Sebagai scientific authority, BRIN bertanggung jawab memberikan dasar ilmiah bagi kebijakan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia," tutur Joko, menutup harapan agar riset ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat penelitian dan konservasi Rafflesia dunia.
(wep)





























