Selain itu, dia menerangkan, pemerintah tengah mengkaji sejumlah opsi pembiayaan green super grid dengan kebutuhan investasi yang terbilang besar.
Misalkan, dia mencontohkan, pemerintah tengah membuka peluang pendanaan dari lender global serta skema carbon pricing dan taksonomi hijau.
“Kebutuhan pembiayaan transmisi tidak murah, selalu menjadi tantangan dalam setiap COP,” kata dia.
Interkoneksi Sumatra-Jawa
Sebelumnya, Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN Darmawan Prasodjo mengatakan perseroannya tengah memproses kelanjutan proyek interkoneksi Sumatra-Jawa.
Darmawan memastikan proposal investasi interkoneksi Sumatra-Jawa itu telah diakomodasi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Tahun 2025-2034.
“[Interkoneksi Sumatra-Jawa] dalam proses, di dalam RUPTL sudah masuk,” kata Darmawan di kawasan PLTP Ijen, Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (26/6/2025).
Interkoneksi antarpulau itu menjadi salah satu program strategis PLN untuk menghubungkan pasokan listrik berbasis air dan panas bumi dari Sumatra menuju sistem Jawa & Bali.
PLN sebelumnya telah melakukan lelang dan studi bersama untuk rencana pengembangan interkoneksi tersebut tahun lalu.
Interkoneksi antarpulau itu menjadi salah satu program strategis PLN untuk menghubungkan pasokan listrik berbasis air dan panas bumi dari Sumatra menuju sistem Jawa & Bali.
PLN sebelumnya telah melakukan lelang dan studi bersama untuk rencana pengembangan interkoneksi tersebut tahun lalu.
Lewat dokumen RUPTL yang terbaru, PLN menargetkan interkoneksi Sumatra-Jawa mulai beroperasi komersial atau commercial operation date (COD) pada 2031.
Malahan, PLN menargetkan, interkoneksi itu bisa menyalurkan listrik energi baru terbarukan (EBT) secara bertahap mencapai 2,6 gigawatt (GW) pada 2033 mendatang.
(naw)






























