Logo Bloomberg Technoz

“Di beberapa lokasi, [seperti proyek CCS milik] BP, ini juga bisa mencakup [investasi di sektor] enhanced gas recovery, sehingga ini produksi gas akan terangkat. [Terlebih,] Indonesia membutuhkan gas, baik di sektor elektrik maupun manufaktur.”

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indonesia CCS Center Belladona Troxylon Maulianda menyebut teknologi CCS bakal diterapkan di Indonesia pada 2030 atau bahkan lebih cepat dengan nilai investasi mencapai sekitar US$38 miliar.

“Investasi yang telah masuk sekarang untuk pre-project karena proyeknya itu baru onstream pada 2030. Investasi ini sekitar US$38 juta dari berbagai perusahaan, dari multinational company, dan juga national oil company," ujarnya akhir April.

Belladona menyebut Indonesia memiliki keunggulan untuk memasifkan teknologi CCS, salah satunya ialah potensi tempat penyimpanan karbon dioksida di bawah tanah yang cukup besar, yakni mencapai 600 gigaton.

"Kalau kita taruh dalam konteks emisi kita itu sekitar 600 juta ton per tahunnya. Jadi, 600 GT dibagi 600 juta itu bisa kita simpan sekitar 1.000 tahun kalau hanya untuk emisi domestik. Namun, kalau kita ingin menyimpan CO2 dari negara-negara tetangga untuk mendapatkan pendapatan, dikombinasikan dengan emisi domestik, kita bisa menyimpan sekitar 200 tahun," papar dia.

Dengan adanya potensi bisnis CCS, Indonesia juga bakal mendapat fee dari negara lain yang menyimpan emisinya pada salin akuifer di Tanah Air. Dalam kaitan itu, RI butuh pembangunan infrastruktur yang kemudian berdampak pada pembukaan lapangan pekerjaan.

Tak tanggung-tanggung, Belladona memperkirakan ada sekitar 170.000 lapangan pekerjaan yang terbuka dari sektor konstruksi, teknik, hingga pengawasan atau monitoring, reporting, and verification (MRV).

"Dia juga bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan GDP. Jadi kita telah menghitung, pertumbuhan GDP ini bisa sekitar 0,8%—1%,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan cara kerja CCS dimulai dari penangkapan CO2 di cerobong asap. Proses ini dilakukan dengan mengambil emisi atau polutan berbentuk gas, lalu diproses sebelum ditransportasikan ke fasilitas penyimpanan.

"Sebelum ditransportasikan, biasanya diproses. Jadi, gas di cerobong-cerobong itu dipisahkan antara CO2 dengan gas-gas lainnya. Setelah dipisahkan itu dicairkan, lalu baru ditransportasikan," jelasnya.

Kemudian untuk proses pendistribusian CO2 yang sudah dicairkan, akan menggunakan pipa gas ataupun kapal. Setelah sampai, CO2 akan disuntikkan ke fasilitas CCS di sumur minyak dan gas bumi eksisting maupun sumur yang baru dibor.

"Setelah ditransportasikan lalu akan diinjeksikan ke dalam tanah ya, kita sebutnya storage," tambah Belladona.

Khusus untuk sumur yang baru dibor, Belladona menerangkan dunia CCS menyebutnya dengan salin akuifer, yakni lapisan air yang kaya dengan konsentrasi garam. Salin akuifer merupakan lapisan air dengan konsentrasi garam yang tinggi.

“Jadi, itu dua lapisan tujuan kita," imbuhnya.

Dia menegaskan teknologi CCS sangat penting untuk menyukseskan agenda transisi energi di Indonesia. asilitas itu akan mereduksi emisi karbon di Indonesia secara efektif. Dengan demikian, target net zero emission (NZE) yang dipatok pada 2060 bisa terealisasi.

Adapun, pemerintah dan ExxonMobil belum lama ini telah resmi menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) untuk rencana investasi US$10 miliar. Investasi ini bakal digelontorkan untuk membangun fasilitas untuk CCS dan industri petrokimia di Indonesia.

(ibn/wdh)

No more pages