Valuta dan mata uang Asia yang berjatuhan hari ini terjadi ketika indeks dolar kembali rebound dan bangkit mencapai penguatan 0,21% hingga menyentuh level 99,649, yang menjadi posisi terbaik DXY dalam lima hari perdagangan usai melemah beruntun.
Pelemahan rupiah dan mata uang Asia lain ditengarai akibat memudarnya sebagian momentum di tengah masa–masa dan proses pembukaan kembali pemerintahan AS setelah 40 hari ditutup (government shutdown AS).
Saat ini pasar tengah mengamati indikator seperti laporan ketenagakerjaan ADP secara lebih cermat, karena data resmi pemerintah belum tersedia akibat penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS.
Namun, ekspektasi pemerintah akan segera dibuka kembali menumbuhkan harapan data ekonomi penting—termasuk laporan ketenagakerjaan untuk September dan Oktober—akan segera dirilis, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Selain kabar terkait pembukaan kembali pemerintahan, investor juga akan mencermati (wait and see) komentar dari sejumlah pejabat Bank Sentral AS pada Rabu, termasuk Presiden The Fed New York John Williams, Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic, serta Gubernur Stephen Miran, guna melengkapi pandangan mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga bulan depan.
Investor bertaruh, kembalinya rilis data resmi akan memperkuat peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Pasar, melansir Bloomberg, mengestimasikan peluang 69% The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin bulan depan, melejit dari sebelumnya 63% pada Senin.
Perubahan ini terjadi setelah data dari ADP Research menunjukkan pasar tenaga kerja AS melambat pada paruh kedua Oktober, dibanding dengan pembukaan bulan tersebut.
Anggota DPR AS diagendakan kembali ke Washington pada Rabu setempat untuk memberikan suara atas kesepakatan anggaran setelah penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS, Bloomberg News melaporkan.
“Seiring fungsi pemerintahan kembali berjalan, kami memproyeksikan pembacaan data ekonomi akan menjadi lebih jelas — ini merupakan langkah penting untuk menilai kekuatan fundamental aktivitas ekonomi AS,” jelas Rajeev De Mello, Manajer Portofolio Global di Gama Asset Management.
“Posisi investor kini mulai menyesuaikan diri dengan sejumlah faktor yang mendukung pasar,” tambahnya, , mengutip Bloomberg.
(fad)





























