Bagaimanapun, lanjut Sutopo, pasokan nikel global diprediksi melanjutkan surplus pada tahun depan dan didorong lonjakan produksi dari Indonesia.
Tekanan Harga
Dari sisi harga, Sutopo memproyeksikan nikel dunia cenderung masih tertekan dan bergerak pada kisaran sempit yang serupa seperti tahun ini di sekitar US$15.000/ton.
“Meskipun ada optimisme jangka panjang dari permintaan kendaraan listrik, sentimen pasar jangka menengah didominasi oleh kekhawatiran kelebihan pasokan yang berkelanjutan,” tegas Sutopo.
Sutopo memprediksi surplus nikel global pada tahun depan mencapai 256.000 ton, didorong produksi yang masif dari Indonesia melebihi pertumbuhan permintaan di sektor baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
“Meskipun ada upaya pembatasan kuota dan peningkatan biaya produksi, tekanan dari stok LME yang tinggi dan pasokan MHP yang melimpah diproyeksikan masih menahan pemulihan harga yang signifikan,” ungkap dia.
Sekadar catatan, pemerintah pada Agustus 2024 resmi menetapkan RKAB nikel sebanyak 240 juta ton bijih pada 2024.
Selain itu, periode 2024—2026, Kementerian ESDM juga telah menyetujui sebanyak 292 permohonan RKAB pertambangan nikel, tetapi hanya 207 di antaranya yang diizinkan berproduksi.
Pada awal tahun ini, Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno menyatakan produksi bijih nikel dibidik sebanyak 220 juta ton sepanjang tahun ini, atau lebih rendah dari target yang dicanangkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 240 juta ton.
Tri menggarisbawahi target produksi yang ditetapkan oleh pemerintah ini berbeda dengan target yang telah berada di kuota RKAB. Kuota RKAB, kata dia, pasti lebih besar target yang ditetapkan oleh otoritas pertambangan negara.
Sementara itu, menurut data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) total proyek smelter nikel di Indonesia mencapai 147 proyek dengan estimasi total kebutuhan bijih 735,2 juta ton. APNI mencatat RKAB nikel yang disetujui untuk 2025 mencapai 364 juta ton, naik dari tahun lalu sebanyak 319 juta ton.
Adapun, pemerintah mencatat kapasitas produksi olahan nikel domestik meningkat menjadi 36,96 juta ton per tahun sepanjang semester I-2025.
Selain itu, pemerintah mencatat, sebanyak 55 industri pirometalurgi telah beroperasi dan menghasilkan nikel kelas 2 di antaranya NPI, FeNi dan nickel matte, di mana 6 di antaranya telah memproduksi stainless steel slab/coil.
Sementara itu, sebanyak 7 industri hidrometalurgi telah mempu menghasilkan MHP dari bijih nikel kadar rendah atau limonit.
Menurut catatan pemerintah, pertumbuhan subsektor industri logam dasar mencapai dua digit pada kuartal II-2025 sebesar 14,91% secara tahunan.
Faktor pendorong kinerja hilirisasi mineral tahun ini di antaranya percepatan proyek hilirisasi nikel menjadi baterai di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah, beroperasinya smelter tembaga dan industri copper foil di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat serta hilirisasi bauksit ke alumina dan aluminium di Kepulauan Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara.
Selain itu, sebanyak 7 smelter dari 16 smelter prioritas telah mencapai kemajuan kontruksi lebih dari 90% dan diharapkan dapat beroperasi pada akhir 2025.
Sebagai catatan, nikel dilego di harga US$15.038/ton di London Metal Exchange (LME) pada Kamis (6/11/2025), menguat tipis 0,02% dari penutupan hari sebelumnya.
Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.
Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.
Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.
(azr/wdh)

























