Meski begitu, rupiah memang menjadi salah satu yang terlemah. Rupiah hanya lebih baik dari won Korea Selatan yang menghuni dasar klasemen.
Dolar AS memang sedang di jalur pendakian. Kemarin, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,07% ke 99,878. Ini menjadi yang tertinggi sejak 31 Juli atau lebih dari tiga bulan terakhir.
Dolar AS mendapat angin karena belum jelasnya arah kebijakan moneter di Negeri Adikuasa. Setelah suku bunga acuan turun dalam rapat Oktober, pemangkasan lebih lanjut pada Desember masih belum pasti.
“Penurunan suku bunga acuan lebih lanjut pada Desember belum jadi keputusan. Jauh dari itu,” tegas Gubernur Jerome ‘Jay’ Powell dalam konferensi pers usai rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pekan lalu, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Mengutip CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5-3,75% bulan depan adalah 65,3%. Sedangkan probabilitas ditahan di 3,75-4% adalah 34,7%.
“Arah kebijakan The Fed sepertinya keruh,” ujar Ulrike Hoffmann-Buchardi dari UBS Global Wealth Management, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Dalam situasi seperti ini, investor cenderung bermain aman sembari mengatur ulang posisi portofolio mereka. Aset-aset berisiko, terutama di negara berkembang, belum jadi pilihan utama. Akibatnya, rupiah dan mata uang Asia mengalami tekanan.
(aji)




























