Rupiah terseret data inflasi Oktober yang lebih tinggi dibanding prediksi dan estimasi pasar, memberi beban tambahan terhadap peluang bagi Bank Indonesia menurunkan bunga acuan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan sepanjang Oktober 2025, Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,28% secara bulanan (month–to–month/mtm) atau 2,86% secara tahunan. Inflasi Oktober lebih tinggi dibanding September yang secara bulanan tercatat 0,21% tahunan 2,65%.
Rilis inflasi yang disampaikan BPS ini jauh lebih tinggi dari konsensus pasar yang memperkirakan secara bulanan inflasi Oktober akan berada di level 0,05% dan tahunan (yoy) 2,59%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Data BPS Pudji Ismartini mengatakan kelompok pengeluaran penyumbang inflasi terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, emas perhiasan, kemudian cabe merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras.
Inflasi Harga Konsumen Indonesia meningkat lebih tinggi pada Oktober, mencatat laju tercepat sejak April 2024 dan melampaui estimasi para ekonom, didorong oleh kenaikan harga emas dan bahan makanan. Alhasil, tingginya inflasi bisa mempersempit peluang penurunan bunga acuan BI Rate di sisa tahun ini.
Panin Sekuritas menyebut, investor tengah mencerna data inflasi Indonesia yang tumbuh 2,86% yoy (daripada September 2025: +2,65% yoy), menjadi sinyal bagi Bank Indonesia untuk mengurangi ruang pemangkasan suku bunga.
Terlebih lagi, sinyal hawkish The Fed turut mendorong pergerakan nilai dolar indeks, jadi beban tambahan bagi rupiah.
Melansir riset Phillip Sekuritas, data Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI) memperlihatkan Inflasi Utama naik 2,86% yoy pada Oktober, tertinggi sejak bulan April 2024, sebuah akselerasi dari laju kenaikan 2,65% yoy pada bulan sebelumnya namun masih berada dalam kisaran target Inflasi 1,5% – 3,5% yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI).
“Inflasi Inti (Core CPI) naik 2,36% yoy, tertinggi dalam empat bulan dan lebih cepat dari laju kenaikan 2,19% Y/Y pada bulan September,” papar Philip, Senin.
Dolar AS Menguat
Rupiah dan mata uang Benua Kuning terjebak di zona merah imbas dolar AS yang kembali tangguh. Pada perdagangan hari ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) lanjut menguat 0,11% melesat ke posisi 99,918.
DXY berhasil melanjutkan tren bullish dengan penguatan empat hari berturut–turut. Dalam 6 hari perdagangan tersebut, indeks ini kembali menguat 1,26% secara point–to–point. Selama sebulan ke belakang, DXY berhasil melesat 1,84%.
Penutupan sebagian pemerintahan federal masih membayangi prospek ekonomi, mengganggu publikasi sejumlah data ekonomi utama. Hal itu memaksa Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell memperingatkan investor agar tidak berasumsi Bank Sentral AS akan melanjutkan pemangkasan suku bunga pada Desember.
“Pemotongan tingkat bunga acuan lebih lanjut pada pertemuan Desember bukanlah sesuatu yang pasti, jauh dari itu,” kata Powell dalam konferensi pers pasca–rapat FOMC, melansir Bloomberg News.
Perkembangan ini membuat investor sedikit kurang yakin mengenai seberapa agresif The Fed bakal memangkas suku bunga acuan. Kegalauan investor kemudian dituangkan dengan membeli dolar AS.
(fad/wep)




























