Logo Bloomberg Technoz

Fina menambahkan kinerja keuangan BUMN pelat merah itu belakangan ditopang oleh tren kenaikan harga logam timah global serta dukungan pemerintah terhadap perbaikan tata kelola pertambangan timah domestik.

Selain itu, dia menambahkan, perseroan juga belakangan berhasil meningkatkan produksi secara kuartalan.

“Seiring dengan peningkatan produksi dari kuartal ke kuartal,” tuturnya.

Menurut catatan TINS, harga rata-rata logam timah cash settlement price LME sepanjang Januari-September 2025 sebesar US$32.775,58 per ton atau naik 8,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$30.130,32 per ton.

Berdasarkan CRU Tin Monitor, pertumbuhan produksi logam timah global di 9 bulanan 2025 sebesar 278.048 ton. Sedangkan konsumsi logam timah global sepanjang Januari-September 2025 diperkirakan sebesar 282.874 ton.

Kinerja TINS

TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 12.197 ton Sn atau turun 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 15.201 ton Sn.

Beberapa faktor penyebab terjadi penurunan produksi bijih timah diantaranya terdampak cuaca angin utara dan angin tenggara, kondisi cadangan tidak menerus (spotted), dan masih terjadinya aktivitas penambangan ilegal.

Sedangkan produksi logam timah turun 25% menjadi  10.855 metrik ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 14.440 metrik ton.

Adapun sampai dengan September 2025 penjualan logam timah turun 30% menjadi 9.469 metrik ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 13.441 metrik ton.

Perseroan mencatatkan penjualan logam timah domestik sebesar 7% dan ekspor logam timah sebesar 93% dengan 6 besar negara tujuan ekspor meliputi Jepang 19%; Singapura 19%; Korea Selatan 18%; Belanda 9%; Italia 4%; dan USA 4%.

Fokus pada pasar ekspor terutama di Asia Pasifik, Eropa dan Amerika, memungkinkan Perseroan memanfaatkan sentimen positif permintaan dari Jepang maupun China, yang dianggap sebagai pendorong utama kenaikan harga timah.

Harga jual rata-rata logam timah perseroan sebesar US$33.596 per metrik ton, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$31.183 per metrik ton.

Nilai aset perseroan pada periode 9 bulanan 2025 naik 7% menjadi Rp13,7 triliun dari Rp12,80 triliun pada akhir tahun 2024. Sedangkan posisi liabilitas perseroan sebesar Rp6,1 triliun, naik 14% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp5,3 triliun dikarenakan naiknya utang usaha dan pinjaman bank jangka pendek.

Posisi ekuitas sebesar Rp7,61 triliun mengalami kenaikan 2% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp7,45 triliun, dikarenakan laba positif yang dibukukan perseroan sampai dengan 9 bulanan 2025.

(naw)

No more pages