Rizky menjelaskan fenomena serupa juga dialami oleh negara produsen besar lainnya. Seperti Tiongkok, India atau Vietnam yang saat ini tengah menyeimbangkan siklus pengiriman dan mengoptimalkan efisiensi rantai pasok global.
"Jadi dalam hal konteks global retailer internasional ini, kita menyesuaikan pola pembelian melalui sistem short term buying. Untuk menghindari overstock menjelang musim produksi 2026," ungkapnya.
Di sisi lain produsen tekstil Indonesia dinilai berhasil menyesuaikan diri dengan mengalihkan sebagian kapasitas produksinya ke pasar domestik. Dari sisi investasi, kepercayaan terhadap sektor tekstil dinilai masih tetap tinggi.
"Data hingga triwulan ketiga tahun 2025 ini menunjukkan kenaikkan investasi dalam negeri atau PMDN sebesar 18,6%," pungkasnya.
(ain)




























