“Tinggal bagaimana keamanan tuh data Dukcapil tadi. Yang mana kita udah tau bahwa data Dukcapil yang di luar sidik jari itu aja udah banyak yang bocor kan, ada salah satu dari data bocor BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial),” kata Ruby.
Dia pun mendorong pemerintah dapat memastikan data biometrik ini, baik sidik dari maupun scan wajah. bakal aman dan tak disalahgunakan oleh orang lain. Apabila dapat dipastikan aman, dari segi fungsional, antarmuka layanan (application programming interface/API), sampai keamanannya harus dijaga serta tidak ada celah untuk dimanipulasi.
Akan tetapi, Ruby mengatakan rencana penerapan verifikasi biometrik ini merupakan salah satu solusi dari Kemkomdigi RI untuk menanggapi wacana kebijakan satu orang satu akun medsos itu dapat terlaksana.
Dengan memastikan bahwa yang menggunakan sebuah akun media sosial tersebut adalah orang, mengurangi bot, mengurangi pendengung (buzzer), mengurangi hal-hal yang negatif ataupun penyebaran berita bohong (hoax), dan lain-lain.
"Sehingga, fungsinya nanti maunya, targetnya kan adalah media sosial atau platform online apapun digunakan memang untuk yang positif. Kalau digunakan untuk yang negatif, sangat mudah untuk penegak hukum untuk melacaknya," tutur dia.
Sebelumnya, Kemkomdigi RI sedang mengkaji rencana penerapan verifikasi biometrik seperti scan wajah hingga sidik jari untuk mengakses medsos. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemkomdigi RI Ismail menerangkan rencana itu bertujuan untuk menjamin keaslian pengguna media sosial di ruang digital.
“Ini kan alat-alat yang bisa digunakan untuk membuat ketika orang masuk di ruang digital itu bertanggung jawab, filosofinya kira-kira seperti itu,” kata Sekretaris Jenderal Kemkomdigi Ismail kepada awak media di Jakarta dikutip Selasa (23/9/2025).
Hanya saja, kata dia, rencana itu masih dalam tahap pembahasan. Di sisi lain, Ismail menegaskan, rencana itu tidak bakal membatasi ruang kebebasan dan berpendapat masyarakat di ruang digital.
“Saya mohon untuk tidak melihat bahwa ini sebagai ikhtiar untuk membatasi kebebasan masyarakat untuk berekspresi, memberikan pendapat, dan sebagainya, bukan itu,” tutur dia. “Tapi bagaimana membuat ruang ini menjadi sehat, produktif, aman, yang kita dambakan bersama,” sambung Ismail.
(far/wep)





























