Logo Bloomberg Technoz

Apa mau dikata, dolar memang sedang perkasa. Akhir pekan lalu, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,3% ke 97,644. 

Pagi ini, indeks tersebut masih menguat 0,1% ke 97,736 pada pukul 08:39 WIB.

Dollar Index (Sumber: Bloomberg)

Dolar AS masih menjadi primadona di pasar karena investor dalam mode wait and see. Pasar masih mencerna rilis data terbaru di Amerika Serikat yang dirilis akhir pekan lalu.

US Bureau of Economic Analysis melaporkan, inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) di Negeri Adikuasa untuk periode Agustus ada di 0,2% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Sedikit melambat dibandingkan Juli yang sebesar 0,3% mtm.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), laju inflasi PCE inti (core) ada di 2,9%. Sama seperti bulan sebelumnya.

Inflasi PCE di AS (Sumber: US Bureau of Economic Analysis, Bloomberg)

Inflasi akan menjadi salah satu indikator yang dipantau bank sentral Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter, termasuk suku bunga acuan. Dalam rapat bulan ini, Gubernur Jerome ‘Jay’ Powell menekankan bahwa meski pasar tenaga kerja melambat tetapi inflasi tetap perlu diwaspadai mengingat akan ada dampak dari kebijakan tarif.

“Akan sangat menantang untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Tidak ada jalan yang tanpa risiko,” tegas Powell, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.

Pasar sudah yakin bahwa The Fed akan menempuh jalan pelonggaran (easing). Namun seberapa agresif itu dilakukan akan sangat tergantung dari data yang masuk (data dependent). 

Itu yang kemudian membuat pelaku pasar belum berani mengambil keputusan besar. Ketika ini terjadi, pasar juga lebih cenderung memilih aset aman (safe haven) seperti dolar AS atau emas.

Hasilnya, arus modal ke pasar keuangan negara-negara berkembang menjadi terbatas. Wajar jika kemudian rupiah dan mata uang Asia lainnya menapaki jalur merah.

(aji)

No more pages