Percepatan arus masuk dana asing itu sebagian dipicu oleh rebalancing MSCI yang akan datang, di mana saham-saham besar berpotensi memperoleh bobot lebih tinggi.
"Indonesia diperkirakan mencatat arus masuk pasif terbesar di antara pasar negara berkembang, sekitar US$1,17 miliar atau setara Rp19 triliun, dengan DSSA dan CUAN menjadi penerima terbesar karena baru masuk ke MSCI Global Standard Index," jelas Alvin, dikutip Kamis (14/8/2025).
Meski masih terlalu dini untuk mengonfirmasi reli, namun aliran dana asing ke tujuh saham tersebut memberikan indikasi kuat IHSG masih memiliki tenaga untuk sentuh level 8.000.
“Faktor menunjukkan reli saham big-7 pekan ini bisa bersifat sementara, setidaknya hingga akhir Agustus atau pertengahan September, tergantung kondisi pasar,” kata Alvin dalam riset, dikutip Kamis (14/8/2025).
Jika menilik beberapa waktu ke belakang, pergerakan IHSG juga cenderung melemah mulai September, terutama jika ada sentimen suku bunga The Fed.
Saat The Fed memulai siklus penurunan suku bunga periode September 2024–Januari 2025, IHSG turun 10%.
Selain itu, kinerja laba emiten big 7 pada kuartal II-2025 menunjukkan pertumbuhan yang terbatas. BBCA mencatat kenaikan laba 6,2% YoY, ASII 2% YoY, sementara BBRI turun 8,7% YoY, BBNI turun 13% YoY, dan TLKM turun 9% YoY. BMRI dan BRIS diperkirakan menghadapi tekanan serupa.
(dhf)






























