Logo Bloomberg Technoz

“Ini adalah momen Model T bagi perusahaan,” kata Farley bulan lalu, merujuk pada mobil yang membawa Ford ke puncak ketenaran seabad lalu. “Kami percaya satu-satunya cara bersaing secara efektif dengan China di pasar global EV adalah mendorong diri kami untuk benar-benar merekayasa ulang dan mentransformasi rantai pasok serta proses manufaktur.”

Farley  memperingatkan bahwa strategi ini belum tentu sukses, mengingat pasar EV AS yang tidak dapat diprediksi dan adopsinya yang lambat oleh konsumen.

“Tidak ada jaminan,” ujar Farley di hadapan pekerja dan politisi di pabrik Ford di Louisville, Kentucky. “Ini adalah taruhan. Ada risikonya.”

Pendanaan ini mencakup investasi baru senilai US$2 miliar (sekitar Rp32 triliun) untuk mengubah pabrik Louisville dari produksi SUV Escape berbahan bakar bensin yang nantinya akan dihentikan dan diubah menjadi pabrik khusus EV.

Model listrik baru ini akan membutuhkan waktu produksi 40% lebih singkat dan memerlukan 600 pekerja lebih sedikit dibanding Escape berkat desain efisien yang dipimpin mantan eksekutif Tesla Inc. Alan Clarke melalui proyek “skunk works” di California. Pabrik Louisville akan mempekerjakan 2.200 pekerja per jam untuk lini EV baru ini, turun dari 2.800, kata perusahaan.

Model-model ini akan menawarkan ruang kabin lebih luas dan fitur canggih seperti mengemudi bebas tangan. Tenaganya bersumber dari baterai lithium iron phosphate (LFP) berbiaya rendah yang mulai diproduksi Ford tahun depan di pabrik baterai baru senilai US$3 miliar (sekitar Rp48 triliun) di Marshall, Michigan.

Farley mengatakan Ford hanya bisa mengalahkan produsen China dengan menawarkan EV yang memiliki fitur lebih inovatif dan metode produksi lebih efisien, karena Ford tidak bisa bersaing pada biaya tenaga kerja yang rendah. “Anda harus mendekati mereka dari sisi biaya, tapi kemudian menerapkan inovasi,” ujarnya.

Ford sengaja tidak memamerkan prototipe pikap listrik yang akan meluncur dua tahun lagi agar tidak memberikan celah bagi pesaing.

Meski Ford kini fokus pada EV kecil dan terjangkau, perusahaan tetap melanjutkan rencana penerus F-150 Lightning berukuran penuh. Produksi generasi baru truk listrik F-Series kembali ditunda ke pertengahan 2028 dari rencana awal akhir 2027, menurut sumber yang mengetahui perubahan ini.

Ford menyatakan bahwa penyesuaian jadwal ini telah diberitahukan kepada pemasok dan karyawan pada Juni.

Rencananya, truk listrik baru ini akan dibuat di kompleks manufaktur senilai US$5,6 miliar (sekitar Rp89,6 triliun) di Stanton, Tennessee, pada 2028. Pabrik ini menjadi fasilitas perakitan baru pertama Ford dalam setengah abad, dengan kapasitas lebih dari 300.000 truk per tahun, jauh melebihi permintaan pasar saat ini. Pabrik ini merupakan bagian dari rencana lama senilai US$50 miliar (sekitar Rp800 triliun) yang kini dibatalkan, yang menargetkan produksi 2 juta EV per tahun pada 2026 untuk menggeser Tesla sebagai pemimpin pasar kendaraan bertenaga baterai.

Belum jelas bagaimana Ford akan memanfaatkan penuh pabrik Tennessee tersebut, meskipun Farley pernah menyarankan pabrik itu dapat memproduksi kendaraan listrik jarak jauh atau plug-in hybrid generasi baru.

Kerugian di Segmen EV

Tahun lalu, unit EV Ford membukukan kerugian sebesar US$5,1 miliar (sekitar Rp81,6 triliun) dan diperkirakan defisit ini akan melebar tahun ini seiring dimulainya lini model baru. Farley menegaskan setiap model EV baru Ford harus terjangkau dan menguntungkan dalam tahun pertamanya di pasar. Konsumen arus utama selama ini enggan membeli EV karena harganya yang tinggi.

“Kita semua sudah terlalu sering melihat ‘usaha setengah hati’ pembuat mobil Detroit untuk membuat kendaraan terjangkau, yang akhirnya berujung pada pabrik menganggur, PHK, dan ketidakpastian,” kata Farley.

Taruhan besar Ford pada EV ini dihadapkan pada sikap Presiden Donald Trump yang menentang apa yang disebutnya “mandat EV”. Paket fiskal Trump senilai US$3,4 triliun (sekitar Rp54.400 triliun) menghapus insentif pajak konsumen sebesar US$7.500 (sekitar Rp120 juta) untuk pembelian EV dan hampir membatalkan subsidi manufaktur yang menjadi kunci bisnis pabrik baterai Ford di Michigan.

Ford melakukan lobi besar-besaran untuk mempertahankan subsidi manufaktur tersebut, termasuk melalui permohonan dari Executive Chair Bill Ford, cicit pendiri Henry Ford.

Ford juga mengatakan tarif Trump telah merugikan perusahaan sebesar US$800 juta (sekitar Rp12,8 triliun) pada kuartal kedua dan menciptakan beban biaya hingga US$2 miliar (sekitar Rp32 triliun) tahun ini. Hal ini terjadi meskipun Ford memproduksi lebih banyak mobil di Amerika dibanding produsen lainnya.

(bbn)

No more pages