Logo Bloomberg Technoz

“Kemarin relaksasi karena ada COVID. Nah, kalau sekarang mau dibuka lagi, ya ganti UU mestinya. Atau apa?" ucap Tri.

Bubur bijih timah melewati pintu air di operasi PT Timah di Sungai Liat, Pulau Bangka./Bloomberg-Dimas Ardian

Salah satu poin kesepakatan tarif AS dan RI yang diumumkan dalam pernyataan bersama atau joint statement pekan ini menyebutkan bahwa Indonesia akan menghapus pembatasan ekspor komoditas industri ke AS, termasuk mineral kritis.

Menjelaskan poin tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada kesempatan terpisah menyatakan kesepakatan Indonesia dengan AS ihwal ekspor mineral kritis bukan berarti akan dilakukan dengan menjual ore, melainkan produk industri.

Dirinya mengeklaim praktik tersebut telah dilakukan Negeri Paman Sam sejak 1967 yakni sejak berdirinya PT Freeport Indonesia (PTFI), yang memproduksi tembaga, di Tanah Air.

“Oleh karena itu, Pak Presiden Amerika [Donald Trump] menyebut Indonesia kuat di copper. Itu dilakukan mulai sejak Freeport. [Produksi PTFI saat ini] berubah menjadi katoda tembaga. Nah itulah yang diperdagangkan, [barang] proses daripada critical mineral,” kata Airlangga dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (24/7/2025).

Terkait dengan kesepakatan dagang RI-AS usai negosiasi tarif, Airlangga mengungkap BPI Danantara telah membuka dialog dengan U.S. International Development Finance Corporation (DFC) untuk berinvestasi pada ekosistem mineral kritis di Tanah Air.

Namun, dirinya belum mengungkapkan proyek apa yang akan didani oleh DFC bersama Danantara tersebut.

“Artinya Indonesia terbuka terhadap investasi, karena investasi dari manapun itu kita terbuka. Termasuk dari Amerika Serikat,” tegasnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) ESDM Dadan Kusdiana juga memastikan tidak akan ada perubahan peraturan ekspor mineral kritis ke AS meskipun terdapat kesepakatan tarif.

Dia mengatakan kesepakatan dengan AS tidak memuat aturan yang memperbolehkan ekspor mineral kritis yang belum diolah alias ore, melainkan harus diolah terlebih dahulu atau melalui proses hilirisasi.

“Apabila dibaca kalimatnya secara lengkap, itu adalah untuk mineral yang sudah terproses, all industrial commodities. Jadi bukan ekspor bijih mentah. Ini sejalan dengan program pemerintah untuk hilirisasi,” kata Dadan ketika dimintai konfirmasi Bloomberg Technoz, Rabu (23/7/2025).

Sebelumnya, Trump telah mengumumkan tarif 19% untuk Indonesia, sementara Negeri Paman Sam memiliki akses penuh terhadap pasar Indonesia tanpa tarif.

“Kami tidak akan membayar tarif. Jadi mereka memberi kami akses ke Indonesia, yang tidak pernah kami miliki. Itu mungkin bagian terbesar dari kesepakatan itu,” kata Trump pada Rabu (16/7/2025) lalu.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan keunggulan Indonesia yang memiliki komoditas tambang tembaga berkualitas tinggi.

Menurutnya, akses penuh yang diberikan oleh Indonesia akan memudahkan AS untuk memperoleh tembaga demi keperluan industri.

“Kami memiliki akses penuh ke Indonesia, semuanya. Seperti yang Anda tahu, Indonesia sangat kuat dalam tembaga. Mereka terkenal memiliki tembaga berkualitas sangat tinggi, yang akan kami gunakan,” tutur Trump.

Tak hanya itu, Trump juga menyoroti komoditas-komoditas yang dimiliki Indonesia, seperti tanah jarang serta material berkualitas lain.

(azr/wdh)

No more pages