Sementara itu, proyek tanki penyimpanan minyak ditaksir mencapai Rp72 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 6.960 orang.
Sebaran Lokasi
Menurut paparan, kedua proyek tersebut—baik kilang maupun storage — disebar ke 18 lokasi di Indonesia.
Lokasi-lokasi tersebut a.l. Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Dongala, Bitung, Ambon, HalmaheraUtara, dan Fakfak.
Di dalam sambutannya, Bahlil sempat menyinggung bahwa proyek kilang 1 juta barel tetap akan dilanjutkan dengan bantuan suntikan investasi dari Danantara.
Rencana proyek kilang tersebut sudah melalui tahap kajian atau studi banding di Angola oleh tim dari Kementerian ESDM, SKK Migas, dan Pertamina.
“Itu sudah ada dan akan kami diskusikan, termasuk kami akan membangun crude storage untuk ketahanan energi kita selama 21 hari dengan sinergi bersama Satgas dan Danantara,” ujarnya.
Pada kesempatan terpisah sebelumnya, Bahlil pernah mengatakan pemerintah tengah mempertimbangkan skenario membuat kilang berkapasitas kecil sekitar 60.000 barel per hari (bph), tetapi berjumlah banyak.
Skenario ini, menurut Bahlil, menelan investasi yang lebih ringan untuk tiap unitnya dibandingkan dengan membangun satu unit dengan kapasitas raksasa.
“Ada sekarang, [kilang] per spot ada yang per 60.000 bph. Nah, sekarang feasibility study finalnya lagi dibuat. Nah, itu jauh lebih murah. Kalau kilang per 60.000 bph itu jauh lebih murah, harganya sekitar US$600 juta—US$700 juta. Jadi kalau kita compile menjadi 500.000 bph itu tidak lebih dari US$6 miliar,” katanya ditemui di sela acara Pelepasan Mudik Bareng Sektor ESDM 2025, Kamis (27/3/2025).
Skema tersebut, lanjut Bahlil, menggunakan metode pembangunan per titik atau spot. Dia menyebut saat ini pemerintah sedang melakukan studi terhadap negara-negara yang sudah memakai skenario tersebut, khususnya di wilayah Amerika Latin dan Afrika.
Dengan asumsi skenario tersebut, kata Bahlil, proyek kilang dengan kapasitas kumulatif 1 juta bph kemungkinan akan dibangun secara tersebar di banyak lokasi di Tanah Air.
“Iya, karena begini, negara kita ini kan negara kepulauan. Negara kepulauan yang memang kita harus mempertimbangkan aspek logistik. Nah, kita lagi menghitung apakah memang lebih ekonomis dan tepat di satu tempat, atau kita akan buat per spot-spot,” jelasnya.
Konsep pembangunan kilang spot dengan kapasitas kecil dan lokasi menyebar sebetulnya telah dilakukan oleh China, dengan istilah teapots.
Teapot refineries adalah kilang minyak kecil yang dimiliki oleh perusahaan swasta di China, dan biasanya memiliki kapasitas di bawah 100.000 bph, serta biasanya berlokasi di daerah perdesaan.
Kilang-kilang teapots ini memainkan peran penting dalam industri minyak China, karena mereka bertanggung jawab untuk memasok sebagian besar minyak mentah dan produk minyak yang dikonsumsi di China.
Namun, berbeda dengan kilang reguler, industri kilang spot cenderung lebih rentan mengalami guncangan saat terjadi anomali di pasar minyak, sebagaimana tengah dialami oleh banyak teapots di Negeri Panda sejak awal tahun ini.
(wdh)






























