Kurnia menambahkan, dari 150 kargo LNG yang akan diekspor itu, sebagian masih dikaji untuk bisa tetap dialihkan ke pasar domestik. Namun, dia enggan memerinci besaran ekspor LNG yang akan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Nanti kita susun lagi [...] kita lihat dari proyeksi tadi 150 ekspor kargo masih memungkinkan dialihkan ke domestik atau lainnya,” tegas dia.
Dia pun meyakini pengalihan LNG untuk ekspor ke pasar domestik tersebut tidak akan membuat kontrak ekspor LNG yang telah diteken atau eksisting dibatalkan. Pengiriman ekspor LNG tersebut hanya akan dijadwalkan ulang.
Selain itu, langkah tersebut juga dikombinasikan dengan kenaikan produksi LNG dan tambahan dari kargo LNG yang belum terikat kontrak penjualan atau uncommitted cargo.
“Hanya penjadwalan saja dengan KKKS dengan para buyer didiskusikan lagi jadwal pengiriman. Sudah dicapai kesepakatan ini bisa ditunda sebentar akan dikirim nanti tanpa ada konsekuensi,” ungkap dia.
Produksi LNG
Dalam kesempatan yang sama, Kurnia menyampaikan produksi LNG dari fasilitas pengolahan Bontang, Kalimantan Timur dan Tangguh, Papua mencapai 237,8 kargo.
Secara terperinci, fasilitas pengolahan LNG Bontang berpotensi memproduksi 53,8 kargo hingga akhir tahun ini. Sementara itu, fasilitas pengolahan LNG Tangguh, diprediksi memproduksi 184 kargo hingga pengujung tahun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan pemerintah akan mempertimbangkan untuk membatasi ekspor LNG mulai tahun ini, dengan terlebih dahulu menghitung kebutuhan domestik.
Namun, ekspor LNG tidak bisa serta-merta distop, khususnya untuk kontrak-kontrak yang sudah berjalan dengan offtaker atau pembeli eksisting.
“Bisa saja kita batalkan, tetapi kita harus bayar dendanya. Ini juga kita lakukan dalam rangka memenuhi stok [domestik]. Makanya, saya katakan, ke depan seluruh sumber daya kita, sebelum diekspor, kita hitung dahulu kebutuhan nasionalnya berapa. Setelah itu, kita memenuhi dahulu kebutuhan itu, sisanya baru kita ekspor,” jelas Bahlil dalam konferensi pers kinerja sektor ESDM 2024, awal Februari.
“Jadi, mulai sekarang, sebelum kontrak diberikan dalam proses produksi, itu sudah harus kita clear-kan.”
Bahlil menyebut kebutuhan gas nasional pada periode 2025—2030 diperkirakan mencapai 1.471 billion british thermal unit per day (bbtud).
Permintaan gas juga diproyeksikan mengalami kenaikan di setiap regional dengan kebutuhan gas nasional ditaksir menembus 2.659 bbtud pada 2034.
Adapun, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi dan Batu bara Indonesia (Aspebindo) Fathul Nugroho menuturkan Indonesia sejatinya mulai kekurangan gas di dalam negeri, bukan karena produksinya yang tidak mencukupi, tetapi ada beberapa fasilitas LNG domestik yang sudah punya kontrak jangka panjang dengan pembeli luar negeri.
“Seperti BP Tangguh, serta melalui gas pipa Conocophillips ke Singapura, jadi kebutuhan gas domestik dapat di support dengan LNG impor dari AS seiring dengan momentum kesepakatan tarif,” ujarnya.
Menurut laporan BMI—lengan riset Fitch Solutions, bagian dari Fitch Group — Indonesia siap menjadi raksasa produsen LNG di Asia Tenggara, seiring dengan adannya potensi tambahan 40 miliar meter kubik atau billion cubic meter (bcm) sumber daya hingga 2030.
BMI menyebut Indonesia kaya dengan proyek gas greenfield yang akan mengerek pasokan gas baku untuk produksi LNG sepanjang 2024—2030.
“Kami memperkirakan sekitar 40 bcm gas alam tambahan akan diproduksi dari proyek-proyek mendatang ini, yang sebagian besar ditujukan untuk memasok gas baku ke pabrik-pabrik LNG yang baru dan yang sudah ada,” papar tim peneliti BMI dalam laporan Desember tahun lalu.
(wdh)





























